Manila, Gontornews — Seorang pria berusia 63 tahun ditembak mati di Filipina setelah mengancam para pejabat desa dan polisi dengan sabit di pos pemeriksaan coronavirus, kata polisi, Sabtu (4/4).
Pria itu diyakini mabuk ketika ia mengancam para pejabat desa dan polisi yang menjaga pos pemeriksaan di kota Nasipit di Provinsi Agusan del Norte, Kamis, kata sebuah laporan polisi.
“Tersangka itu diperingatkan oleh petugas kesehatan desa … karena tidak mengenakan masker,” kata laporan itu. “Tapi tersangka marah, mengucapkan kata-kata memprovokasi dan akhirnya menyerang personil menggunakan sabit.”
Tersangka ditembak mati oleh seorang polisi yang berusaha menenangkannya.
Insiden ini adalah kasus pertama yang dilaporkan polisi menembak mati warga sipil karena menolak mengikuti pembatasan untuk mengekang penyebaran coronavirus baru.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah memperingatkan pada hari Rabu bahwa ia akan memerintahkan polisi dan militer untuk menembak siapa saja yang membuat masalah.
“Ikuti pemerintah saat ini karena sangat penting bagi kami untuk memerintah,” katanya dalam pidato nasional televisi larut malam.
“Dan jangan membahayakan pekerja kesehatan, para dokter … karena itu adalah kejahatan serius. Perintah saya kepada polisi dan militer, jika ada yang membuat masalah, dan hidup mereka dalam bahaya: tembak mati mereka.”
Pulau Luzon, pulau utama di Filipina, telah ditutup selama sebulan sejak 16 Maret. Warga dilarang meninggalkan rumah mereka kecuali untuk perjalanan penting ke toko kelontong atau apotek, atau jika mereka adalah pekerja garis depan. []
![Jumlah kasus yang terinfeksi coronavirus di Filipina lebih dari 3.000, sementara hampir 150 telah meninggal [Anadolu Agency]](https://i0.wp.com/gontornews.com/wp-content/uploads/2020/04/Filipina.jpg?resize=750%2C375&ssl=1)





















