Yogyakarta, Gontornews — Kamis (27/11/2025) pagi ratusan mahasiswa hadir menyaksikan satu demi satu ilmu yang disampaikan para pakar dalam acara bertajuk “Experts Talk: Peran Agama dan Filsafat di Era Artificial Intelligence (AI)”.
Kegiatan yang diadakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu pun dihadiri oleh sejumlah pakar Artificial Intelligence (AI) seperti Prof Dr H Robby Habiba Abror Mhum (Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam), Prof Syafa’atun Almirzanah PhD DMin (Alumnus Chicago University, Guru Besar FUPI). Lalu datang pula dua pakar akademisi yakni Prof Dr Moch Fakhruroji (Guru Besar Media Baru dan Kajian Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung) dan Dr Ir Dimitri Mahayana MSc (Pakar AI, Alumnus Waseda University Jepang, Dosen Institut Teknologi Bandung).
Pada pembahasannya, dari perspektif media baru dan komunikasi, Prof Dr Moch Fakhruroji menyoroti pergeseran fundamental peran AI dari sekadar alat menjadi infrastruktur digital yang mendisrupsi keseharian, menandai transisi dari Internet of Things (IoT) menuju Artificial Intelligence of Things (AIoT). Ia menekankan perspektif determinisme teknologi, di mana teknologi kini secara aktif membentuk budaya, identitas individu, hingga struktur kekuasaan dalam masyarakat.
Prof Fakhruroji juga memberikan peringatan krusial dengan mengutip Neil Postman mengenai bahaya masyarakat yang mulai ‘memuja’ teknologi yang melumpuhkan kapasitas berpikir mereka. Sebuah ironi di tengah data yang menunjukkan bahwa meskipun 54% eksekutif mengakui peningkatan produktivitas berkat AI, terdapat risiko otomatisasi tinggi pada 38% pekerjaan di awal dekade 2030-an.
Lebih lanjut, Prof Fakhruroji membedah bagaimana masyarakat melakukan “domestikasi teknologi”, sebuah proses mengadopsi dan mengintegrasikan teknologi ke dalam rutinitas melalui tahapan apropriasi, objektifikasi, inkorporasi, hingga konversi. Fenomena ini bermuara pada deep mediatization, di mana kehidupan sosial semakin tak terpisahkan dari infrastruktur digital dan basis data yang menopangnya.
Kemudian dengan latar belakang teknik yang kuat, Dr Ir Dimitri Mahayana MSc, pakar teknologi dan filsafat sains ITB membongkar mitos bahwa AI akan memiliki kesadaran (consciousness) layaknya manusia. Mengutip teorema ketidaklengkapan Gödel dan pandangan Roger Penrose, Dimitri menjelaskan bahwa komputasi hanyalah manipulasi simbol, bukan pemahaman makna.
“Secanggih apapun Large Language Model (LLM) seperti GPT, mereka hanyalah ‘beo statistik’ yang sangat pintar. Mereka tidak memiliki qualia atau pengalaman subjektif. Ketakutan bahwa AI akan menjadi ‘makhluk’ yang sadar adalah ketakutan yang tidak berdasar secara saintifik, namun bahaya penyalahgunaannya oleh manusia adalah nyata,” jelas Dimitri.
Pakar teknologi dari STEI ITB ini lalu membongkar ilusi kesadaran pada AI dengan menegaskan bahwa AI hanyalah fungsi matematika yang memanipulasi data, bukan entitas yang memiliki pikiran, niat, atau perasaan.
Dimitri menekankan bahwa fenomena “halusinasi” pada AI adalah konsekuensi natural dari cara kerja algoritma yang bersifat probabilistik, di mana survei menunjukkan 60% pengguna di Indonesia pernah menerima jawaban AI yang sangat meyakinkan, namun faktanya salah.
Ia memperingatkan bahaya antromorfisme atau kecenderungan manusia menganggap mesin memiliki sifat hidup, padahal sesungguhnya AI hanyalah “patung data” yang bekerja berdasarkan kalkulasi statistik semata tanpa pemahaman makna.
Lebih lanjut, Dimitri menyoroti dampak nyata adopsi AI yang masif namun belum matang, mulai dari munculnya fenomena workslop—limbah konten digital yang terlihat bagus tapi tanpa substansi, hingga ketergantungan kognitif di mana 48% responden kini memilih menggunakan AI daripada berusaha sendiri.
Di tengah estimasi ratusan triliun rupiah dana yang mengalir ke luar negeri untuk layanan AI berbayar, ia menyerukan urgensi tata kelola yang ketat, transparansi algoritma, dan audit dataset untuk mencegah “keracunan data” (data poisoning) yang dapat mengacaukan sistem keamanan siber dan integritas informasi secara permanen di masa depan, sebagaimana disadur ushuluddin.uin-suka.ac.id. [Edithya Miranti]



















