Depok, Gontornews — Meningkatnya isu pelecehan seksual di lingkungan pesantren, mendorong pesantren untuk lebih proaktif untuk menangani isu ini, alih-alih melakukan klarifikasi yang membawa kesan antikritik. Menyikap hal tersebut, Pesantren Al-Hikam Depok mengambil langkah nyata dengan menyelenggarakan seminar bertajuk “#AntiPelecehanSeksual: Menumbuhkan Kesadaran, Membangun Ruang Aman” yang berlangsung pada Ahad (23/11/2025).
Dilaksanakan di Selasar Masjid Al-Hikam Depok, pemateri pertama, Muharini Aulia MPsi, seorang Psikolog Klinis dan asesor digital literacy di Kementerian Agama memaparkan bahwa pelecehan seksual merupakan isu yang sangat dekat dengan kehidupan santri.
Ia menyoroti bahwa isu pelecehan seksual sangat dekat, bahkan menyebut pondok pesantren sebagai tempat kedua dengan kasus tertinggi, setelah perguruan tinggi. Muharini juga mendefinisikan kekerasan seksual sebagai aktivitas yang mengeksploitasi tubuh, verbal, dan lainnya, tanpa adanya consent atau izin, termasuk mengobjektifikasi tubuh atau membahas fisik seseorang yang dapat memicu fantasi seksual.
“Aktivitas yang melewati batas tanpa consent itu merupakan bentuk pelecehan seksual. Jangan membenarkan sesuatu hanya karena sudah biasa terjadi,” tambahnya untuk mengingatkan bahaya normalisasi, sebagaimana tertulis dalam press release Al-Hikam Depok.
Muharini juga menyoroti adanya power relation. Relasi kuasa ini dapat menyebabkan korban atau saksi mata takut melapor dan pelaku menggunakan posisi superiornya untuk ‘membungkam’ orang yang ‘posisi’ di bawahnya.
Dampak psikologis pelecehan dapat merenggut ruang aman korban, menyebabkan depresi, trauma, hingga keinginan bunuh diri. Bahkan secara ekstrem, korban dapat di kemudian hari berbalik menjadi pelaku.
“Tekankan pada diri bahwa dia mungkin punya kuasa dalam beberapa hal, tapi tidak atas diri saya,” tegasnya.
Oleh karena itu, Muharini mengajak santri untuk mulai membentuk ruang aman dari lingkup terkecil, menumbuhkan rasa setara, dan berani bilang tidak, serta menemani korban dan meningkatkan pengetahuan.
KH M Yusron Shidqi Lc MA, Pengasuh Pesantren Al-Hikam Depok, dalam closing statement menyebutkan, “Kekerasan seksual itu dapat dilakukan oleh laki-laki yang lupa bahwa perempuan merupakan bagian dari kehidupannya.” Perempuan merupakan bagian tak terpisahkan dari komunitas laki-laki. “Sebagaimana pelecehan ini tidak kita inginkan terjadi pada orang-orang terdekat kita, maka jangan kita lakukan itu pada orang lain,” tutupnya kepada Gontornews.com. [Edithya Miranti]





















