Yogyakarta, Gontornews — Diskusi hangat terkait peran agama dan filsafat di era Artificial Intelligence (AI) sukses diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Prof Dr H Robby Habiba Abror MHum kepada Gontornews.com mengabarkan bahwa kegiatan ini digelar pada Kamis (27/11/2025). Dihadiri oleh ratusan mahasiswa baik secara offline maupun online, acara itu pun berjalan lancar dan sukses, serta menjawab banyak pertanyaan tentang Artificial Intelligence/Akal Imitasi (AI).
Bertempat di Smart Room FUPI, seminar tersebut menjadi panggung pertemuan penting yang mempertemukan perspektif filsafat, mistisisme, komunikasi digital, dan teknologi akal imitasi (AI).
Diskusi ini menghadirkan dua pembicara kunci (keynote speaker), yaitu Prof Dr H Robby Habiba Abror MHum (Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam) dan Prof Syafa’atun Almirzanah PhD DMin (alumnus Chicago University, Guru Besar FUPI). Turut hadir pula dua pakar akademisi, Prof Moch Fakhruroji (Guru Besar Media baru dan Kajian Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung) dan Dr Ir Dimitri Mahayana MSc (Pakar AI, Alumnus Waseda University Jepang, Dosen ITB Bandung).
Mereka membahas Akal Imitasi (AI) sebagai fenomena ontologis yang terus menantang sisi-sisi kemanusiaan kita hari ini. AI dibedah dari perspektif agama, filsafat, komunikasi dan Teknik AI.
Dikutip ushuluddin.uin-suka.ac.id, membuka diskusi, Dekan FUPI UIN Sunan Kalijaga, Prof Robby Abror menegaskan bahwa agama dan filsafat sangat penting dan tidak akan mati di era Akal Imitasi (AI) ini, meskipun tantangan teknologi semakin besar.
Dalam paparannya, Prof Robby mengingatkan adanya fenomena cognitive offloading di mana manusia saat ini cenderung menyerahkan tugas berpikir kritis dan keputusan moral kepada mesin atau algoritma.
Menurutnya, kita butuh gelombang kesadaran kedua, yaitu AI Detachment yaitu sikap kita untuk menjaga jarak dari teknologi gawai, tab, media sosial dan tidak begitu saja menyerahkan proses berpikir atau otonomi kita kepada mesin atau teknologi AI. “Dengan filsafat kita dapat berpikir kritis dan harus menolak menyerahkan otonomi berpikir kita kepada mesin,” papar Prof Robby.
Lebih lanjut ia mengatakan, “AI bisa menjawab apa saja secara logis, rasional dan tekstual (burhani dan bayani), tetapi AI tidak memiliki hati nurani, perasaan, dan kemampuan irfani.”
Kemudian, Guru Besar Studi Agama-Agama (SAA), Prof Syafa’atun Almirzanah membawa diskusi ke ranah yang lebih dalam yakni spiritualitas. Ia menyoroti berbagai fenomena teknologi dan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) yang menampakkan kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran-peran kemanusiaan yang berbasis empati. Namun, menurutnya, ada satu wilayah yang steril dari jangkauan AI, yaitu rasa atau pengalaman spiritual (religious experience).
Prof Syafaatun berargumen bahwa dalam tradisi mistisisme dan sufisme, pengetahuan tertinggi dicapai melalui penyucian hati (tazkiyatun nafs), bukan sekadar akumulasi data. “AI bisa menulis puisi tentang Tuhan, tapi ia tidak bisa merindukan Tuhan. Agama harus kembali menekankan aspek esoteris ini agar manusia tidak merasa inferior di hadapan kecerdasan buatan,” tutupnya. [Edithya Miranti]






















