Indonesia kembali berduka. Berbagai musibah datang silih berganti mendera negeri ini. Gunung Sinabung kembali meletus. Maluku tenggara didera gempa bumi. Sulawesi Utara, Samarinda dan Konawe Utara dihantam banjir. Hujan terjadi di berbagai daerah yang mengakibatkan terjadinya banjir.
Bahkan tak hanya musibah alam, di Buton terjadi kerusuhan warga yang mengakibatkan terbakarnya 80 rumah warga. Sebelumnya telah terjadi korban kerusuhan pemilu dan ratusan meninggal saat bertugas pemilu. Ada apa dengan negeri ini?
Jauh sebelumnya Gunung Kidul Jogjakarta terjadi banjir dan tanah longsor. Selain musibah banjir dan tanah longsor, musibah lain adalah meletusnya Gunung Agung di Bali. Jadi dua tahun ini Indonesia mengalami banyak musibah ekologis dan musibah kemanusiaan.
Hujan sesungguhnya adalah anugerah dari Allah bagi hamba-hambaNya. Hujan adalah ciptaan Allah, tak seorangpun yang mampu mendatangkan hujan sebagaimana Allah mendatangkan hujan. Sebab Allah maha kuasa atas segala sesuatu.
Allah berfirman, ‘Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat [41]: 39).
Hujan adalah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah pernah bersabda, “ Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan: bertemunya dua pasukan, menjelang shalat dilaksanakan, dan saat hujan turun.” (HR Baihaqi’).
Bahkan Rasulullah pernah berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Bukhari).
Karena itu jika kemarau dirasakan terlalu panjang hingga kekeringan, maka kaum muslimin dianjurkan melaksanakan sholat istisqa meminta hujan kepada Allah Sang Pencipta kemarau dan hujan.
Sebab fenomena kemarau dan hujan adalah dua tanda-tanda kekuasaan Allah untuk menjadi renungan bagi manusia. Sebelum sholat istisqa dianjurkan untuk berpuasa, bersedekah, dan bertobat.
Saat pelaksanaan istisqa dianjurkan seluruh warga keluar bersama anak-anak dan hewan-hewan ternak dengan memakai pakaian yang sederhana dengan terus memanjatkan doa yang khusuk dan merendahkan hati.
Hujan secara ekologis adalah fenomena yang biasa terjadi saat musimnya datang. Namun dalam perspektif teologis, musim hujan adalah bagian dari peringatan dan teguran dari Allah bagi manusia.
Dari Aisyah berkata apabila Rasululloh melihat mendung atau angin (kencang) terlihat (perubahan) di wajahnya, lalu aku bertanya: ‘Wahai Rasululloh aku lihat manusia bergembira ketika melihat mendung karena berharap akan turun hujan, tetapi aku lihat engkau ketika melihatnya (mendung) aku mengetahui dari wajahmu engkau tidak menyukainya.’
Lalu Rasululloh bersabda: ‘Wahai Aisyah tidak ada yang memberi keamanan akan datangnya adzab (kecuali Alloh) yang telah mengadzab suatu kaum dengan angin (kencang), padahal kaum tersebut melihat adzab itu lalu mereka mengatakan: ‘Ini hanya mendung yang akan menurunkan hujan kepada kami’ (padahal itu adalah adzab Allah).[ QS. Al Ahqaf : 24]” (HR. Bukhari dan Muslim).
Peringatan dan teguran Allah kepada manusia berkaitan erat dengan perilaku manusia dalam mensikapi kehidupan, alam dan sesama manusia. Terhadap alam alam dan lingkungan, manusia terbukti telah melakukan berbagai kerusakan. Manusia telah melakukan berbagai eksplorasi bumi dan hutan hingga merusak keseimbangan alam yang telah Allah atur keseimbanganya secara sistemik dan sistematis.
Eksplorasi sumber daya alam besar-besaran dan pembakaran hutan dengan tujuan materialisme segelintir manusia kapitalis dengan mengabaikan aspek teologis dan kesejahteraan rakyat adalah bentuk kezaliman kemanusiaan.
Allah telah mengingatkan manusia untuk menjaga keseimbangan alam yang telah Allah tata sedemikian rupa bagi kebaikan manusia seluruhnya.
Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan Kedua-duanya tunduk kepada nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS Ar Rahmaan : 3-9).
Kesalahan dan pengrusakan lingkungan demi keuntungan duniawi akan mendatangkan bencana bagi manusia itu sendiri. Ketidakseimbangan lingkungan alam akan mendatangkan kekeringan jika musim kemarau dan akan mendatangkan banjir dan tanah longsor saat musim hujan.
Dengan seluruh fenomen alam ciptaan Allah, semoga masyarakat tersadarkan akan perannya sebagai seorang khalifah dalam mengelola alam dan lingkungan sebagai bagian dari pengabdiannya kepada sang Pencipta alam raya. Keimanan dan ketaqwaan dalam perspektif ekologis adalah masyarakat dan pemerintah sadar lingkungan dengan menjaga dan memelihara lingkungan sebagai amanah Allah dengan harapan mendatangkan “ keberkahan lingkungan” dari sang Penguasa lingkungan.
“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs Al A’raf : 96).
Singkatnya, saatnya negeri ini menyikapi fenomena kosmologis dengan sudut pandang teologis dan saintifik, sehingga memunculkan kesyukuran dan pengelolaan alam dengan baik dan seimbang. Saatnya negeri ini menyadari untuk segera taubat Nasional dan kembali kepada ketundukan total kepada hukum dan syariat Allah.
Bukan malah mengkufuri dan melakukan berbagai bentuk kezaliman kemanusiaan yang justru akan mendatangkan bencana. Kembalilah kepada Allah wahai para pemimpin dan rakyat Indonesia. Kembalilah.





















