Tepat pada tanggal 15 Syawwal 1440 atau bertepatan dengan 19 Juni 2019, saya tidak bisa menahan isak tangis. Bagaimana tidak, ribuan santri dengan khidmat mendengarkan keputusan final seputar diterima atau tidaknya mereka untuk nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor.
Selaku salah seorang pengurus Bimbingan belajar persiapan masuk Gontor untuk wilayah Bekasi, kesempurnaan bimbingan ditentukan dengan seberapa jauh prosentasi kelulusan anak didiknya. Namun, senior kami selalu mengingatkan bahwa diterima atau tidaknya para santri bukanlah sebuah acuan kesuksesan sebuah bimbingan masuk Gontor akan tetapi ‘transfer semangat’ untuk belajar menuntut ilmu dan menjauhi diri dari kebodohan adalah tolak ukur kesuksesan dari sebuah proses pendidikan.
Benar saja, dari 3.714 santri yang mendaftar 890 diantaranya belum mendapatkan kesempatan nyantri di Gontor untuk tahun ajaran 1440-1441/2019-2020. Apakah lantas mereka yang belum terima menyerah untuk nyantri? Tidak. Mereka justru bersemangat dan bertekad untuk ‘menaklukkan’ ujian masuk Gontor untuk tahun ajaran berikutnya. Bagaimana caranya? Tentu saja menambah amunisi dan mempersiapkan diri sebaik mungkin baik secara keilmuan, mental hingga mujahadah.
Proses pembacaan pengumuman keputusan pun berlangsung secara dramatis. Bahkan, demi menghormati dan membesarkan hati santri dan para wali santri yang memadati halaman Pondok Modern Darussalam Gontor 2 Madusari Siman Ponorogo, Pimpinan Pondok beserta jajarannya datang dan berkenan untuk membacakan pengumuman kelulusan secara langsung.
Pembacaan pun dilakukan secara berjenjang mulai dari Gontor 1 Ponorogo, Gontor 2 Ponorogo, Gontor 3 Darul Ma’rifat Kediri, Gontor 5 Darul Muttaqin Banyuwangi, Gontor 6 Darul Qiyam Magelang hingga penempatan yang terbaru yaitu Gontor 9 Kalianda Lampung. Bisa dibayangkan bagaimana cemasnya anda andai nomor ujian putra anda tidak disebut di Gontor 1 Ponorogo.
“Aku deg-degan, mas,” kata Reza, salah seorang wali santri asal Bekasi yang putranya diterima nyantri di Gontor 2 Siman, Ponorogo
Bakan hubungan kakak-adik tidak menjamin bahwa penempatan pondok bisa sama. Zunaedy, salah seorang wali santri asal Bekasi lainnya bahkan harus ikhlas menerima bahwa hanya satu dari dua putranya saja yang diterima itupun bukan di Gontor 1 Ponorogo ataupun Gontor 3 Darul Ma’rifat Kediri tapi di Gontor 6 Magelang. Bayangkan, seberapa deredeg dan plong hatinya mana kala nomor ujian putranya disebut.
“Alhamdulillah….!!!” pekik Zunaedy di hadapan para wali santri yang memadati sekitar tempat pengumuman.
Pemandangan heroik lainnya ditujukan oleh Fajar Shodiq, salah seorang wali santri yang juga pernah nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor. Raut wajah penuh keyakinan dan kemantapan hati untuk membawa putranya merasakan hiruk-pikuk hidup di Pesantren seketika hilang manakala nomor ujian putranya disebut.
“Ustadz, nomor anak saya disebut. Alhamdulillah,” teriaknya sambil menangis terisak-isak dan memeluk erat salah seorang sahabatnya yang menjadi guru senior di Gontor.
Fajar tidak henti-hentinya mengucap Alhamdulillah sembari bersyukur putranya bisa diterima Gontor 5 Darul Muttaqin Banyuwangi. Baginya, kesempatan nyantri di Gontor adalah sebuah stepping stone bagi perkembangan anaknya. Ia pernah berujar bahwa sejak kecil, putranya dianggap petakilan hingga dianggap tidak memiliki sopan santun.
“Tapi saya sadar, apa yang dilakukan putra saya saat itu adalah wajar. Dan ada masanya, dimana anak saya memahami bahwa apa yang pernah dialaminya adalah tidak tepat dan dia belajar menganai hal itu,”
“Ustadz, kalau anak saya bisa belajar dengan duduk manis lebih dari 5 menit saja, itu sudah bagus,” kata alumnus Gontor tahun 1998 itu.
Tapi, karena ingin masuk Gontor, putranya pun memiliki tekad untuk bisa melampaui pesaingnya dengan jargon, “Masa, aku kalah sama mereka? Aku harus bisa masuk Gontor!”. Nama putranya pun tidak kalah heroik, Jihad Iqtishodi (Berjuang di bidang ekonomi).
Begitulah, suasana haru, tangis bahagia hingga kisah perjuangan yang mengiringi proses penerimaan siswa baru di Gontor. Tidak ada kisruh soal bagaimana proses pendaftaran di Gontor dan dimana kelak putranya ditempatkan. Para wali santri yang mendampingi putra-putrinya mendaftar di Gontor hanya berdoa kepada Allah swt agar diberikan kesempatan untuk nyantri dan menuntut ilmu di Pesantren. Bagi mereka, menutut ilmu adalah sebuah keharusan karena uṭlubu al-‘ilma mina al-mahdi ila al-laḥdi (menutut ilmu mulai dari sejak lahir sampai ke liang lahat). Wallāhu A’lam bi al-ṣawāb






















Alhamdulillah anak saya lulus ujian masuk, saya punya kisah namun belum bisa di shar dalam bentul tulisan
Alhamdulillah anak saya lulus juga tahun ini, terimakasih untuk ustadz-ustadz Bimbingan Masuk Gontor Sulselbar yang telah membantu anak kami untuk mempersiapkan diri sehingga bisa masuk tahun ini..Barakallah…terutama ustadz Rady, Ustadz Ghani, Ustadz Aqsa, Ustadz oen, dan semua ustadz dan ustadzah Bimago Sulselbar, semoga amal baik antum semua di terima dan dibalas oleh Allah S.W.T…
Alhamdulillah putriku di terima di pondok pesantren Gontor putri 5 di kediri dengan perjuangan yg sangat melelelahkan menguras energi dan waktu akhirnya tercapailah sudah cita” untuk menjadi santriwati di pondok pesantren gontor. Untuk itu saya selaku walsan banyak mengucapkan terimakasih atas bimbingan dari Ustadz/ Ustadzah bimbel Primago atas segala bantuan dan kerja kerasnya semoga Allah yg akan membalas amal ibadahnya…Aamiin yra.
Ditunggu Pak berbagi pengalamannya
alhamdulillah..anak saya perempuan diterima di gp 5 tahun ini
Assalamualaikum, maaf ijin bertanya.
Untuk penempatan santri putri, apabila mendaftar di gontor 1, apakah bisa ditempatkan di gontor putri cabang luar jawa ?
Waalaikumsalam. Berdasarkan pengumuman penerimaan calon pelajar tahun 2021 dan Surat pernyataan yang ditandatangani oleh wali dan calon pelajar, setiap peserta ujian masuk Menerima keputusan penempatan calon pelajar di kampus manapun termasuk di luar jawa. Syukron