Tripoli, Gontornews — Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Antonio Guterres mengatakan khawatir jika perang di Libya akan menjadi perang saudara. Kekhawatirannya disampaikan dalam laporan terbarunya tentang Misi Dukungan PBB di Libya.
Dalam laporan itu, Gutterres juga mengatakan, konflik yang terjadi sejak penggulingan Presiden Muammar Khadaffi 2014 lalu, dapat redah jika kelompok yang terlibat dapat melakukan langkah-langkah damai.
“Perang itu akan berhenti, jika kelompok bertikai mengambil tindakan dalam waktu dekat dan sangat mungkin bahwa konflik saat ini akan meningkat menjadi perang saudara penuh,” kata Guterres seperti dikutip Aljazeera.
Selain itu, dia juga mengakui dukungan masyarakat internasional sangat diperlukan dalam menemukan solusi politik bagi negara itu.
“Solusi politik untuk konflik Libya membutuhkan dukungan penuh dan bersatu dari komunitas internasional,” kata Guterres.
Ia juga mendesak semua pihak untuk berhenti menggunakan senjata peledak, termasuk dengan pengeboman udara atau penembakan khususnya di daerah-daerah berpenduduk karena kemungkinan dampaknya yang sangat berbahaya.
Dalam laporannya juga Guterres menyatakan keprihatinannya terhadap pengungsi dan migran yang berada di negara yang kaya minyak itu.
“Pengungsi dan migran di Libya harus dibebaskan dan disediakan tempat penampungan yang aman sampai klaim suaka mereka dapat diproses atau mereka dapat diberikan bantuan repatriasi yang aman untuk penyatuan kembali dengan keluarga mereka,” katanya.
Libya adalah salah satu titik keberangkatan utama bagi orang-orang yang melarikan diri dari kemiskinan dan perang di Timur Tengah dan Afrika yang berupaya untuk mencapai Eropa dengan kapal melalui Laut Mediterania.
Badan Pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan bahwa hampir 5.000 migran dan pengungsi di Libya yang saat ini ditahan di pusat-pusat penahanan di seluruh Libya.
UNHCR juga memperkirakan jika di luar pusat penahanan ada sekitar 50.000 pengungsi terdaftar dan pencari suaka, serta sekitar 800.000 migran, saat ini tinggal di tempat lain di negara itu.[Devi Lusianawati]






















