Ponorogo, Gontornews — Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor pada acara Halaqah Teladan ke-15 telah menghadirkan dua kader dosen terbaiknya, yakni Ustadz Febrian Arif Wicaksana (mantan bagian pengasuhan santri Gontor 2) dan Ustadz Azhar Amir Zain. Keduanya merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2009.
Tepat pada Senin (30/11) lalu, Ustadz Azhar Amir berkesempatan untuk menjadi pembicara dalam kajian tersebut dengan mengusung tema besar, “Menjadi Pendidik Teladan”. Disampaikannya bahwa pendidik ideal standar Gontor, menurut Kiai Abdullah Syukri Zarkasyi paling tidak memiliki lima kemauan dan kemampuan. “Berfikir keras, bekerja keras, berdoa keras, ibadah keras, dan istirahat keras (tambahan dari KH Hasan Abdullah Sahal saat Pekan Khutbatul ‘Arsy di Pondok Gontor tahun 2020 ini),” terang Azhar.
Alumni double master dari Universitas di Sudan tersebut lantas menambahkan bahwa keras dalam konteks di sini adalah melakukan sesuatu secara optimal, semaksimal mungkin, dan proporsional. Kemudian, pemateri menegaskan bahwa pendidikan di Gontor lebih memilih ungkapan “Talk more, do more” daripada “Talk less, do more“. Karena memang untuk menanamkan suatu nilai, atau ajaran perlu ‘ping sewu’. Ping sewu dalam pengarahan dan ping sewu dalam penugasan.
Dalam proses mendidik, seorang aktor pendidik (alumni Gontor) juga perlu memerhatikan langkah-langkah proses berikut: pengarahan, pelatihan, penugasan, pembiasaan, penciptaan lingkungan, uswatun hasanah, dan pengawalan. Terkait hal mendidik dengan pengawalan, KH Syukri mengajarkan kepada kita beberapa model pendekatan, di antaranya:
1. Pendekatan ideologi (menanamkan nilai-nilai perjuangan, keikhlasan, dst).
2. Pendekatan personal (mendoakannya, mentraktir, tahu seluk-beluk keluarga peserta didik, dst).
3. Pendekatan program (diberikan program-program yang bisa meningkatkan skill dan hard skill peserta didik).
4. Pendekatan disiplin (diberikan tata tertib, baik yang tertulis ataupun yang tidak tertulis).
“Selain perihal di atas, pemateri menyampaikan bahwa sebenarnya ada hal-hal lain yang bisa mendukung kesuksesan kita dalam proses mendidik,” terang Mujtaba, panitia acara dan juga dosen UNIDA Gontor. Hal-hal tersebut, lanjut Mujtaba kepada Gontornews.com, ia ambil dari pengalaman selama menjadi mahasiswa di negara Sudan.
Ustadz Azhar Amir menyatakan bahwa mayoritas profil guru di Sudan memiliki beberapa karakter sebagai berikut:
1. Sabar. Bercermin dari kondisi Sudan yang serba susah sehingga mereka terbiasa mengatakan, “Khair in syaa Allah” dalam berbagai kondisi..
2. Tawadlu’dan dermawan. Di Sudan beberapa guru menggunakan istilah ‘al-Faqiir’ saat menyebut dirinya. Banyak dari mereka juga tidak mau mendapat fasilitas dari muridnya. Malah yang banyak, guru di Sudan memberi santunan kepada para muridnya. Bukan hanya ilmu yang mereka berikan, namun juga harta.
3. Ruh belajar. Di kalangan kita ini, sebagai pendidik kadang lebih disibukkan dengan masalah-masalah administrasi. Sehingga tidak jarang melalaikan kita untuk tafaqquh fi ad-diin serta intens membaca karya-karya ulama kita. “Karenanya, jangan sampai hal-hal administratif menjadikan kita lalai dalam tafaqquh fi ad-diin,” pungkasnya. <Edithya Miranti>




















