Ponorogo, Gontornews — “Alhamdulillah hati kami tergerak kembali untuk menjalankan sunnah hasanah (in syaa Allah), yaitu kajian Halaqah Teladan menjelang Dzuhur yang diadakan di,” ujar Ustadz Mujtaba dalam kajian rutin Alumni Gontor Angkatan 2009 di Masjid UNIDA Gontor Siman Ponorogo, Senin (9/12).
Sesi kali ini diisi oleh orang yang masyhur di kalangan alumni Gontor angkatan 2009, Ustadz Ahmad Arif, M.B., M.A, yang pernah diberi amanah menjadi ketua angkatan. Setelah dari Gontor, ia melanjutkan S1-S2 di salah satu Universitas di Sudan Fakultas Syariah. Penelitian magisternya membahas tentang Mashalih Mursalah yang digagas oleh Ibn ‘Asyur.
Di awal kajian, pemateri mengutip salah satu hadits terkait kecintaan Allah pada orang yang beramal secara itqan.
قَالَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلا أَنْ يُتْقِنَهُ. رواه أبو يعلى والطبراني، وصححه الألباني.
Sesungguhnya Allah SWT mencintai seseorang di antara kalian, jika ia mengerjakan suatu pekerjaan, maka ia kerjakan dengan Itqan (tekun dan tuntas).
Hadis ini menjadi bahan muhasabah bagi kita dalam Halaqah Teladan kali ini, apakah selama ini kita sudah itqan dalam beramal? Padahal hanya dengan bekerja itqan, kita akan mendapatkan cinta Allah SWT.
Di Gontor, Kiai kita, sering mengingatkan supaya dalam dalam bekerja, kita harus all out, harus teteg (yakin/kokoh), tatag (tidak memiliki rasa takut), tutug (sampai pada tujuan). Di antara ungkapan lain yang sering kita jumpai, yang juga menjadi salah satu ciri etos kerja anak Gontor adalah adanya ungkapan: “Selesai acara, tempat kembali bersih dan tertib seperti tidak ada acara”, atau “Berbuatlah lebih baik dari yang sebelumnya, اعملوا فوق ما عملوا”, dst.
Selanjutnya, pembahasan difokuskan kepada kunci sukses dalam berbisnis Syariah. Pemateri menerangkan bahwa kunci sukses pertama adalah kita harus yakin bahwa sejatinya rezeki kita sudah ditentukan, kewajiban kita sebagai hamba Allah adalah berikhtiar dengan doa dan usaha. Kadang timbul rasa resah akan sesuatu yang belum kita dapatkan, padahal memang itu sudah menjadi porsi kita. Kerena boleh jadi, jika kita mendapatkan sesuaitu tersebut, kita malah sombong dan tidak bersyukur. Hal ini sebagaimana yang diterangkan dalam (QS. Al-Hadid: 22)
“Tidakkah menimpa kalian (wahai manusia) berupa musibah di bumi dan musibah pada diri kalian berupa penyakit, kelaparan, dan rasa sakit, kecuali ia tertulis di Lauhul Mahfuz sebelum makhluk diciptakan. Sesungguhnya hal itu adalah mudah bagi Allah”.
Kedua, muliakan orang tua. Sebagai pengalaman pribadi pemateri. Kemudahan demi kemudahan dalam berbisnis salah satu penyebabnya adalah ketika ia memberikan hasil usahanya untuk orang tua. Jadi, dalam gaji anak ada hak orang tua. Pemateri betul-betul yakin, “Jika kita memuliakan orang tua kita layaknya raja, maka rizki kita akan seperti raja. Namun jika kita memperlalukan orang tua kita layaknya pembantu, maka jangan salahkan siapa-siapa jika rizki kita seperti pembantu.”
Ketiga, bukalah pintu rizqi anda dengan berdagang (dengan jujur dan jelas). Karena 9 dari 10 pintu rezeki disebutkan dalam salah satu hadis (dha’if) ada di dalam perdagangan,
تسعة أعشار الرزق في التجارة. (رواه العراقي في المغني، والحربي في غريب الحديث، ضعفه الألباني)
Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan
Keempat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di awal kajian, yaitu itqan. Itqan bisa diartikan bekerja dengan ulet, tanggungjawab, istiqamah, bermental baja (siap jatuh dan bangun, jangan maunya instan menjalani proses bisnis), dst.
Kelima, kita harus husnudzdzan pada Allah. Kita harus yaqin bahwa Allah mentakdirkan kita sebagai orang sukses, bukan hanya di dunia namun sukses juga sampai di akhirat, yaitu dikumpulkan bersama para Nabi, as-Shiddiqin, as-Syuhada’ dan as-Shalihan. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Qudsi berikut,
أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني. (متفق عليه)
Saya (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan aku akan bersamanya jika ia berdzikir/mengingat-Ku. (H.R. Muttafaqunalaih).
Selain 5 hal di atas, pemateri juga mengingatkan supaya dalam berbisnis perlu selalu mengasah kemampuan dalam memanfaatkan peluang, mengasah kecapakan dalam berbicara (komunikasi), suka mencoba, dan yang terpenting kita harus selalu berusaha menjaga prinsip-prinsip syariah dalam berbisnis. Karena tidak ada artinya uang kita, jika tidak ada keberkahan di dalamnya.
Semoga Allah melapangkan rezeki kita semua. Rezeki yang halal, thayyib, luas dan penuh dengan keberkahan. Wa Allahu A’lam. []




















