Yogyakarta, Gontornews — Cerita pilu kesejahteraan petani di Indonesia masih terjadi pada hari pangan sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober ini.
Bagaimana tidak, petani yang memiliki posisi vital dalam keberlangsungan peradaban manusia, tapi kesejahteraan mereka belum sesuai harapan.
Demikian dikatakan Ahmad Romadhoni, Anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah seperti dilansir Muhammmadiyah.or.id (16/10).
Menurutnya, pertumbuhan pangan akan terus berkejaran dengan pertumbuhan penduduk. Jika produksi pangan tidak dilakukan akselerasi, ketersediaan pangan akan berkurang.
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada ini memperkirakan, penduduk Indonesia tahun 2050 akan mencapai 400 juta jiwa.
Angka ini, jelas dia, akan memunculkan ketimpangan antara produsen pangan dan konsumen. Karena untuk sekarang ini, tidak lebih dari 5% generasi muda yang kembali bertani.
Dikatakannya, generasi muda enggan bertani karena kesejahteraan yang diterima tidak sesuai harapan. Terlebih, kemitraan yang dibangun oleh pemerintah identik dengan kemitraan yang dibangun dengan perusahaan.
“Seharusnya, kemitraan lebih banyak diarahkan kepada petani. Pemerintah perlu hadir untuk mendorong pemuda kembali bertani melalui kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan petani,” ungkapnya.
Pemerintah juga harus mampu menyambungkan petani dengan konsumen. Dalam hal ini peran aktif dan pokok yang bisa diambil pemerintah di antaranya dengan menjembatani petani dari hulu sampai hilir.
Sehingga, petani dalam melakukan penjualan hasil produksi tidak melewati rantai distribusi pasar yang panjang, sehingga harga hasil pertanian terkatrol naik. “Jika harga naik, kesejahteraan baik,” jelasnya.
Bukan hanya persoalan Sumber Daya Manusia (SDM), dalam penyediaan pangan memilki kaitan erat dengan pembangunan. Adanya pembangunan yang tidak sesuai rencana tata ruang juga berdampak pada semakin menyempitnya lahan produktif pertanian beralih menjadi bangunan.
Hal tersebut, kata dia, tidak bisa diselesaikan hanya dari satu pihak, melainkan dibutuhkan kesadaran dan kerjasama dari berbagai pihak. “Sebagai solusi, petani perlu membentuk team work, atau jamaah tani,” pungkasnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien]






















