Bogor, Gontornews – Sekali lagi, Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor menggelar webinar, Rabu (15/7). Kali ini webinar bertema “Literasi Anak Usia Dini”. Acara ini merupakan putaran ketiga webinar empat putaran bertajuk “Secangkir Kopi Webinar PIAUD”.
Seminar online di masa pandemi ini diikuti sekitar 130 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berasal dari berbagai kota di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.
Webinar kali ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Ir Rusdiono MPd (dosen PIAUD INAIS) dan Dr Diana Berlianti MSi (penggiat literasi anak dan remaja).
Rusdiono yang tampil pada kesempatan pertama mengatakan, membangkitkan kemampuan literasi bagi anak usia dini sangat penting untuk melatih tradisi membaca dan menulis dan melatih kemampuan dasar anak untuk membaca, menulis, dan menghitung.
Selain itu juga untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mempersiapkan anak untuk memasuki dunia sekolah. “Perkembangan literasi yang baik berkolerasi positif terhadap prestasi akademik anak di masa mendatang,” paparnya.
Menurut Rusdiono, salah satu cara untuk membangkitkan kemampuan literasi anak usia dini yaitu dengan membacakan buku kepada anak-anak. Termasuk membacakan buku sebelum tidur. Upaya ini dapat mendekatkan hubungan orangtua dan anak. Dari segi kognitif, kosakata dan kemampuan berimajinasi anak akan meningkat.
“Membacakan buku sebelum tidur juga akan melatih daya ingat anak, serta menanamkan pesan moral untuk bekal anak kelak,” ujar Rusdiono pada webinar yang dimoderatori oleh Masyiani Mina Laili SPd MSi, dosen PIAUD INAIS.
Mengutip surat an-Nisa’ ayat 9, Rusdiono mengatakan dengan membangkitkan kemampuan literasi anak usia dini in syaa Allah kita akan meninggalkan generasi penerus yang kuat akidah, rajin ibadah, kaya ilmu, dan kuat ekonomi.
Sementara itu pembicara kedua, Diana Berlianti, menyebutkan tugas utama orangtua mendidik anak agar dapat meneruskan nilai-nilai yang baik, membentuk selera anak, bahkan memutuskan untuk mengambil atau menolak sebuah perilaku dan kebiasaan melalui serangkaian pengalaman internal yang membekas di dalam kenangan anggota keluarga.
“Orangtua merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam proses membudayakan transfer nilai-nilai keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya,” paparnya.
Membawakan makalah bertajuk “Membangun Literasi Melalui Aktivitas Percakapan di Meja Makan”, Diana mengatakan, dialog di meja makan ini harus berlangsung dua arah dengan iklim yang nyaman kondusif, tidak otoriter, sehingga anak-anak merasa enak bersama dan menceritakan apa yang dirasakan dan dipikirkannya.
Menurutnya, kemauan dan kerelaan anak-anak untuk bercerita apa saja tanpa takut pada respon orangtua membuat keluarga harus memiliki budaya saling bercerita yang dilakukan secara berkelanjutan seperti pada budaya makan bersama. “Makan bersama seharusnya dapat menjadi ‘ritual’ yang dapat dirutinkan dalam kehidupan keluarga. Makan bersama dapat dijadikan kesempatan untuk menjajaki pengalaman personal setiap anggota keluarga melalui percakapan yang tidak saja dapat menjadi pola dalam keluarga, tetapi juga menjadi sumber kenangan di masa mendatang,” katanya dalam webinar dengan aplikasi Zoom yang terhubung ke Youtube itu.
Menurut doktor lulusan IPB ini, kegiatan makan bersama juga dapat menjadikan pola komunikasi keluarga menjadi memiliki makna sehingga dapat membantu pengembangan kemampuan berbahasa anak dan pencapaian akademik.
“Kegiatan ini juga dipercaya dapat menumbuhkan ikatan antara orangtua dan anak, yang dapat dikenang seumur hidup anak sehingga anak akan termotivasi untuk melakukannya di masa mendatang saat mereka sudah dewasa dan menjadi orangtua,” papar Diana. []






















