New Delhi, Gontornews — Mahkamah Agung India menetapkan komunitas Hindu sebagai pemenang dalam sidang sengketa kepemilikan Masjid Babri di Ayodhya, India. Putusan yang dibacakan pada Sabtu (09/11), secara tidak langsung memosisikan umat Muslim sebagai pihak yang kalah.
Sengketa kepemilikan masjid kuno Babri di Ayodhya memuncak pada tahun 1992, di mana kelompok Hindu menghancurkan masjid yang dibangun pada abad ke-16 itu. Sekitar 2000 Muslim dikabarkan terbunuh dalam konflik sipil yang sudah berlangsung lama tersebut.
Meski demikian, pihak kepolisian India telah memberikan pengamanan di sejumlah titik rawan konflik di India. Mereka juga meminta agar masyarakat tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak pantas di laman media sosialnya.
“Pihak kepolisian menghimbau warga untuk tidak menyalahgunakan media sosial,” ungkap petugas kepolisian Lucknow, Kalanidhi Naithani, sebagaimana dilansir Reuters.
Pasca pembacaan putusan tersebut, pihak kepolisian telah menangkap 37 orang dari 12 kasus yang terjadi di negara bagian Uttar Pradesh. Polisi juga telah menangkap satu orang karena membuat komentar tidak pantas di laman media sosialnya serta tujuh orang yang ditangkap karena menyalakan petasan atau membuat keributan kala merayakan kemenangan komunitas Hindu.
Sebelum pembacaan putusan dilangsungkan, pemerintah mengerahkan ribuan pasukannya untuk mengamankan kondisi di sejumlah titik di Ayodhya maupun tempat sensitif yang lain. Pun dengan komunitas masyarakat Hindu yang meminta anggotanya untuk tidak merayakan kemenangan di depan umum.
Bagi masyarakat hindu, Masjid Babri merupakan salah satu tempat suci di mana Dewa Ram, sebuah inkarnasi fisik Dewa Wisnu, dilahirkan. Sementara bagi masyarakat Muslim, Masjid Babri merupakan wilayah bagi kesultanan Muslim Mughal yang dibangun pada tahun 1528.
Melalui putusan ini pula, Mahkamah Agung menyebutkan bahwa pembongkaran Masjid Babri yang dilakukan oleh komunitas Hindu bersifat ilegal namun menyerahkan kepemilihkan 1,1 hektare wilayah kompleks Masjid Babri kepada masyarakat Hindu.
Sementara kelompok Muslim “kebagian” 5 hektare wilayah di Ayodhya sebagai kompensasi atas kekalahan yang diterima pascaputusan sengketa Masjid Babri.
“Mengapa 2,77 hektare dihadiahkan kepada elemen-elemen yang terkait dengan hal ini?” ungkap Syeda Hameed, Presiden Forum Wanita Muslim India merujuk pada upaya pembongkaran Masjid Babri pada tahun 1992.
Para pemimpin Muslim pun telah menyerukan perdamaian kepada masyarakat Hindu dan Muslim di Ayodhya. Meski demikian, banyak juga komunitas Muslim di India kecewa dengan keputusan tersebut seraya menyerahkan segala sesuatu kepada Allah SWT.
“Saya kecewa dengan vonis dan menyerahkan segalnya kepada Allah,” pungkas Pemimpin Komunitas Muslim di Ayodhya, Mohammad Azam Qadri. [Mohamad Deny Irawan]





















