Jakarta, Gontornews — High Level Discussion: Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia yang terselenggara di kantor Bappenas pada 25 Juli 2018 lalu sangat menarik untuk dicermati. Dalam diskusi tingkat tinggi yang dibuka Kepala Bappenas dan dihadiri Menko Perekonomian Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH. Ma’ruf Amin membahas seputar ekonomi halal.
Adalah Finance, Food, Fashion dan Fun yang disasar mereka dalam diskusi tingkat tinggi itu. Dalam hal ini Finance mewakili lembaga keuangan syariah, Food mewakili makanan halal, Fashion busana Muslim, dan Fun adalah pariwisata halal.
Dalam sambutannya, Kepala Bappenas menyampaikan, ekonomi syariah di Indonesia berpotensi untuk dikembangkan melalui pembiayaan sektor syariah, pariwisata dan industri halal karena populasi Muslim kita mencapai 85 persen dari total penduduk Indonesia.
Adapun yang membuat Islamic Finance terutama perbankan syariah sulit berkembang, kata Bambang, karena perbankan syariah dan sektor riil syariah tidak terafiliasi dengan baik.
“Sektor keuangan syariah akan bergerak cepat kalau dibarengi sektor rill. Karena sektor rill belum berafiliasi dengan industri syariah membuat ekonomi syariah belum bergerak,” katanya.
Hal senada juga diungkapkan Menko bidang Perekonomian Darmin Nasution, dengan jumlah penduduk Muslim Indonesia yang mencapai 12,7 persen dari total populasi Muslim dunia, Indonesia dengan sendirinya punya potensi besar untuk menjadi pemain kunci dalam pengembangan ekonomi syariah global. Namun perlu sinergi antara penyediaan barang dan jasa halal, e-commerce dan supply chain global, termasuk pariwisata halal.
Menurut Darmin, potensi besar itu ditandai adanya kegiatan-kegiatan sektor riil dan industri syariah. “Kita ini pangsa penduduk Muslim dunia, dari sisi pengeluaran secara global kira-kira 12 persen dari pengeluaran global pada 2016. Pangsa ini diproyeksikan akan naik dari 2,1 triliun dollar AS pada 2016 menjadi 3 triliun dollar AS pada 2022,” kata Darmin.
Dari sisi pengeluaran konsumsi, imbuh Darmin, nilai transaksi makanan serta minuman halal juga turut memperbesar potensi ekonomi syariah. Karena nilai transaksi makanan halal global pada 2016 mencapai USD 1,2 triliun atau 17 persen dari pengeluaran konsumsi makanan secara global. Sedangkan dari segi industri pariwisata halal Indonesia menduduki peringkat keempat pasar konsumsi wisata halal dunia dengan nilai mencapai USD 9,7 miliar.
“Mengingat besarnya pangsa pasar ekonomi riil syariah ini sudah sepatutnya kita mengembangkan, membangun sinergi sehingga mampu meningkatkan peran pada sektor-sektor ekonomi riil syariah secara global,” imbaunya.
Dalam presentasinya Menpar Arief Yahya juga menitikberatkan pada pengembangan sektor pariwisata yang sesuai dengan benchmark Global yang berlaku. Karena Achievement Pariwisata Halal lah yang memenangkan berbagai penghargaan di tingkat internasional.
Dijelaskannya, kunjungan Wisatawan Mancanegara (wisman) Muslim ke Indonesia masih kalah dengan kunjungan wisman Muslim ke negara mayoritas non-Muslim. Di antaranya seperti ke Thailand dan Singapura. Hal ini, membuktikan bagaimana referensi wisman memilih destinasi tujuan wisata tidak berdasarkan kesamaan agama di destinasi tersebut.
Oleh karena itu, Halal Tourism bertujuan meningkatkan Service Quality dengan mengedepankan aspek Muslim Friendly. Di Indonesia, peningkatan Service Quality yang Muslim Friendly didorong dengan adanya Indonesia Muslim Travel Index (IMTI). IMTI diselenggarakan untuk memunculkan competitiveness di seluruh provinsi di Indonesia sekaligus sebagai referensi untuk meningkatkan indeks daya saing halal tourism Indonesia di panggung internasional.
Sementara itu Ketua MUI, Prof Dr KH. Ma’ruf Amin mengatakan bahwa pihaknya siap membantu memperbesar pangsa melalui fatwa untuk menggerakkan umat. Beliau juga menekankan pentingnya Pelayanan Prima dalam pengembangan Ekonomi Islam pada umumnya, termasuk wisata halal di dalamnya.
Tentang hal ini Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo juga menyarankan agar Halal Tourism dikembangkan untuk menjadi sumber devisa. Selain itu pihaknya sudah mengumpulkan program-program Kementerian untuk diintegrasikan termasuk di antaranya dengan Kementerian Pariwisata untuk mengembangkan Halal Tourism.
Pertama, BI akan terus memperbaiki kualitas industri keuangan syariah khususnya perbankan syariah. Dengan perbaikan kualitas bank akan lebih memperbanyak pasar dan pengguna.
“Kualitas bank syariah harus ditingkatkan. Jangan memperbesar busnya, tapi lupa penumpangnya, “jelasnya
Kedua, pihaknya akan terus menggenjot keuangan syariah dari sisi keuangan syariah komersil dan keuangan syariah sosial. Keuangan komersil adalah bank atau produk keuangan syariah, termasuk pasar keuangan syariah. Sedangkan keuangan sosial ialah mobilisasi zakat produktif.
Ketiga, Perry menyebut pihaknya akan lebih menghidupkan entrepreneurship syariah nasional. Karena, potensi wirausaha santri di Indonesia masih sangat besar.
Keempat, komunikasi kepada publik dengan lebih meningkatkan kampanye yang menyeluruh bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Kita harus lebih agresif dalam sinergi. Halal tidak hanya produk tapi juga ada value chain. Ini halal lifestyle. Masyarakat Muslim Indonesia semakin kaya dan ingin mempraktekkan gaya hidup halal,” tutup Perry. (Muhammad Khaerul Muttaqien)





















