Bandung, Gontornews — Sudah menjadi tradisi setiap menjelang lebaran Idul Fitri masyarakat Indonesia, khususnya yang beragama Islam, mudik ke kampung halamannya. Menurut Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Prof Dr H Sofyan Sauri, MPd, mudik merupakan budaya asli yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Indonesia. Sebuah budaya yang lahir dari perpaduan nilai dan tradisi yang sudah ada di masyarakat Indonesia.
“Mudik adalah tradisi tahunan orang Indonesia, terutama bagi umat Islam setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan,” ujarnya pada kajian Ahad (1/5) pagi ba’da Shubuh dari Masjid Al-Falaq, Gegerkalong Tengah, Kota Bandung.
Lebih lanjut Prof Sofyan menuturkan, tradisi mudik lebaran merupakan ajang silaturahmi untuk mengungkapkan bentuk hubungan dekat antara bapak dengan anaknya, atau seseorang dengan kerabatnya dengan kasih sayang, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahmi.” (QS an-Nisa: 1).
Namun, bagi umat Islam, mudik yang hakiki adalah perjalanan pulang ke kampung akhirat menuju Allah SWT. Allah berfirman, yang artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran: 133).
“Mudik adalah pulang menuju kampung akhirat dengan membawa perbekalan ampunan dari Allah dan bekal pahala untuk menempati surga-Nya. Inilah mudik yang tidak bakal ada peristiwa kembali lagi. Sekali sudah mudik ke akhirat, maka tidak akan ada jalan lagi kembali ke dunia,” terangnya pada pengajian bertajuk “Kajian Surat An-Nur Ayat 42: Mentafakuri Makna Mudik dalam Perspektif Islam.”
Dengan kata lain, mudik yang sesungguhnya adalah kembalinya kita kepada Allah SWT. Kembali dengan mempersiapkan bekal yang kelak akan dibawa ke hadapan Allah, yaitu bekal iman, ilmu, dan amal shalih.
Karena itu, kita perlu mempersiapkan mudik dengan sebaik-baiknya karena tempat yang akan dituju merupakan “keabadian”, apakah di surga atau neraka. Sugesti mudik hakiki yang baik ditengarai dengan tawaran menempati surga yang luasnya seluas langit dan bumi (QS Ali-Imran: 133).
Menurut Prof Sofyan, hakikat mudik itu didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 156 yang artinya: “… Mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Karena itu, “Jangan terlena dunia yang sementara,” tandasnya pada pengajian yang digelar secara hybrid dengan aplikasi Zoom.
Lalu apa bekal yang perlu kita siapkan untuk mudik menuju kampung akhirat? Menurut Guru Besar kelahiran Cianjur, 20 April 1956 itu, ada tujuh bekal yang mesti dipersiapkan. Pertama, tabungan amal sebaik mungkin selama di dunia. Dalam surat Al-Mulk ayat 1-2 Allah berfirman yang artinya: “Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.”
Kedua, bertakwa. Allah berfirman yang artinya: “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Qashash: 83).
Ketiga, lanjut dosen Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor itu, mengerjakan amal shalih. Allah berfirman yang artinya: “Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” (QS al-Fajr: 24).
Keempat, banyak menangis sebagai tanda tobat. Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya: “Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat tentang kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis. (HR Muslim, No. 2359).
Kelima, menyiapkan amalan yang pahalanya terus mengalir. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang shalih” (HR Muslim, No. 1631).
Keenam, melatih perilaku dengan akhlak karimah sesuai Al-Qur’an dan As-Sunah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman yang artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS al-Ahzâb: 21).
Ketujuh, berdoa agar bisa wafat dengan predikat husnul khatimah. Allah berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali ‘Imran: 102).
“Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).” (QS An-Nur: 42). []























Alhamdulillah
Sangat bermanfaat