Den Haag, Gontornews — Penyelidik Belanda mengatakan mereka menemukan percakapan telepon yang melibatkan Pemerintah Rusia dalam tragedi jatuhnya pesawat Malaysia MH17 di Ukraina pada 2014. Jaksa penuntut mengajukan permohonan baru bagi para saksi untuk menyumbangkan informasi.
Seperti dirilis dw.com, investigasi yang dipimpin Belanda secara terbuka menyodorkan bukti yang mengaitkan hubungkan pemerintah Rusia dengan kelompok militan yang bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 atas Ukraina pada tahun 2014.
Dalam transkrip panggilan telepon yang disadap oleh Tim Investigasi Gabungan (JIT) pada hari Kamis, pejabat tinggi Rusia berbicara dengan para pemimpin kelompok militan “Republik Rakyat Donetsk” (DPR) yang menembak jatuh pesawat komersial, menewaskan semua 298 penumpang dan awak pesawat.
Tiga panggilan telepon yang dicegat antara Juni dan Juli 2014 menunjukkan pemimpin kelompok separatis Igor Girkin dan Alexander Borodai berbicara dengan pemerintah termasuk pemimpin Krimea yang ditunjuk Rusia Sergey Aksyonov dan Vladislav Surkov, seorang pejabat tinggi Pemerintah Rusia dan ajudan Vladimir Putin.
Girkin, seorang warga Rusia dan “menteri pertahanan” dari Republik Donetsk yang memproklamirkan diri, merupakan salah satu dari empat tersangka yang ditugasi oleh para penyelidik karena peran mereka dalam menjatuhkan pesawat.
Nama Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu juga muncul beberapa kali dalam transkrip panggilan antarmilitan. Salah satu pejuang menyebutkan mendapat “mandat dari Shoigu.”
Penyelidik mengatakan, ada dugaan keterlibatan Moskow dengan rudal anti-pesawat yang menembak jatuh pesawat.
“Pengaruh Rusia terhadap DPR lebih dari sekadar dukungan militer,” demikian bunyi pernyataan dari pemimpin penyelidikan Belanda Andy Kraag.
“Hubungan antara para pejabat Rusia dan para pemimpin DPR tampaknya jauh lebih dekat.”
Transkrip menunjukkan Girkin meminta dukungan militer Rusia, dan Aksyonov membenarkan bahwa pengaturan sedang dilakukan.
“Indikasi hubungan dekat antara pejabat pemerintah Rusia dan para pemimpin DPR menimbulkan pertanyaan tentang kemungkinan keterlibatan mereka dalam peluncuran Buk-Telar (rudal), yang menjatuhkan pesawat MH17 pada 17 Juli 2014,” kata Kraag. [RM]






















