Teheran, Gontornews β Pada hari Senin (19/10) Iran mengonfirmasi 337 kematian akibat virus corona. Ini merupakan kondisi terburuk sejak pandemi virus corona menyapa negeri itu tujuh bulan lalu.
Tonggak sejarah yang suram ini mewakili lonjakan signifikan dari catatan korban tewas satu hari sebelumnya yaitu 279. Kementerian Kesehatan juga mengumumkan 4.251 infeksi baru, sehingga jumlah total menjadi 534.630.
Arabnews.com merilis, jumlah kematian meningkat dalam beberapa pekan terakhir, ketika pihak berwenang berjuang untuk mengekang penyebaran virus selama berbulan-bulan. Pejabat kesehatan mengatakan, ibukota, Teheran, telah kehabisan tempat tidur perawatan intensif.
Republik Islam Iran muncul di awal pandemi sebagai episentrum global virus dan sejak itu menjadi wabah terburuk di Timur Tengah, dengan jumlah kematian mencapai 30.000 pekan ini. Pemerintah telah menolak penguncian total untuk menyelamatkan ekonominya yang hancur, yang telah dilemahkan oleh sanksi AS yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Saat jumlah korban tewas meroket, melampaui level tertinggi sebelumnya yang tercatat pada musim semi di tengah wabah terburuk, pihak berwenang mulai memperketat pembatasan. Pemerintah memerintahkan penutupan sekolah dan universitas baru-baru ini. Museum, perpustakaan, salon kecantikan dan tempat umum lainnya di Teheran ditutup mulai awal bulan ini. Pemerintah juga mewajibkan masyarakat untuk mengenakan masker di luar ruangan.
Lonjakan kasus saat ini terjadi hanya beberapa pecan setelah sekolah di seluruh negeri menyambut kembali 15 juta siswanya untuk pembelajaran secara langsung (offline). []


















