Oleh Dr H Hidayat Nur Wahid
Islam adalah agama moderat (wasathiyah). Islam tidak mengajarkan bersikap radikal karena Islam bukan agama teroris. Ini selaras dengan tujuan Allah SWT pada awal penciptaan manusia, yakni menjadikan makhluk wasathan. Artinya, manusia diciptakan untuk memegang teguh ajaran Islam dan menjadi umat yang moderat, bukan teroris.
Masyarakat Muslim Indonesia menganut manhaj ahlu sunnah wal jama’ah. Manhaj ini pula yang mengamalkan pengajaran Islam wasathan, bukan ajaran kekerasan. Dengan demikian, Islamnya kaum Muslimin Indonesia adalah moderat dan antiterorisme. Tentu, sebagai umat Islam kita harus meyakini bahwa ajaran Allah SWT pasti benar. Karena itu, umat harus menjalankan perintah Islam yang moderat.
Umat yang moderat adalah umat yang meletakkan sesuatu pada kebenaran dan keadilan. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan kepada umatnya untuk meletakkan segala urusan pada pertengahan. Tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.
Dari Anas RA berkata: Tiga orang datang ke rumah istri Nabi SAW bertanya tentang ibadah Rasulullah. Setelah diberitahu, mereka menganggap seakan-akan amal ibadah Nabi SAW hanya sedikit dan mereka berkata, “Di mana tempat kami dibanding Nabi SAW. Padahal, beliau telah diampuni semua dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang?” Salah seorang di antara mereka berkata, “Saya selamanya shalat sepanjang malam.” Lalu yang lain berkata, “Saya selamanya berpuasa.” Orang yang lain lagi berkata, “Saya akan menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan menikah selama-lamanya.”
Kemudian Rasulullah SAW datang dan bersabda kepada mereka, “Kalian tadi berbicara begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah SWT di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur malam, aku juga mengawini perempuan. Siapa saja yang benci terhadap sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR Bukhari dan Muslim)
Meski Rasulullah SAW dikenal sebagai ahli ibadah, namun beliau tidak pernah meninggalkan urusan dunia. Ketika Rasulullah SAW menjalankan urusan ibadah, pribadi, atau kemasyarakatan, semua dilakoni dengan moderat. Inilah sunnah Rasulullah SAW yang telah diajarkan dan diteladankan.
Jika saat ini banyak fenomena hidup radikal atau terorisme, maka sungguh sangat disayangkan. Berhati-hatilah kalian dan jangan berlebih-lebihan atau ekstrem dalam menjalankan ajaran agama. Karena orang-orang terdahulu telah dihancurkan akibat sikap mereka yang berlebih-lebihan dalam kehidupan mereka. Dari Ibnu Mas’ud RA berkata, Nabi SAW bersabda, “Binasalah orang-orang yang keterlaluan dan berlebihlebihan” (HR Muslim). Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. Maksudnya, akan hancur mereka yang melampaui batas dan keluar dari perilaku hidup yang wasathiy karena Rasulullah SAW sendiri tidak pernah mengajarkan hal demikian.
Berkat ajaran Islam yang moderat, hadirlah masyarakat baru yang menjadi rahmat bagi semesta. Ingatlah, sebaik-baik umat adalah umat yang moderat, bukan radikal. Karena itu, ajaran Islam moderat harus terus diajarkan, didialogkan, didakwahkan, juga dibela agar dapat terus dicontoh. Dengan begitu, Islam dapat terus dikenal baik dan tidak dipandang sebagai agama kaum radikalis dan teroris. Apalagi saat ini fitnah terhadap ulama banyak terjadi. Jadi, tugas kita adalah terus memberi kesaksian, penjelasan, atau klarifikasi bahwa Islam kita adalah manhaj wasathiy, ajaran yang moderat. Ini harus terus digaungkan, terlebih bila ada kelompok yang ingin mengadu domba antara umat dengan negara. Mereka adalah sekelompok orang yang tidak suka dengan ukhuwah wathaniyah atau ukhuwah basyariyah yang ada saat ini.
Untuk itu, mari terus realisasikan Islam yang moderat karena konspirasi para kelompok jahat akan terus ada. Merekalah yang tidak menyukai kehadiran kelompok ahlu sunnah wal jama’ah. Jika muncul beragam fitnah dan kejahatan, kita harus terus mampu mengklarifikasi.





















