New York, Gontornews — Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, Sabtu (17/9/2022), mengingatkan bahwa perpecahan dunia saat ini yang terluas sejak Perang Dingin. Secara khusus, Guterres menyampaikan hal ini menjelang Majelis Umum PBB yang berlangsung mulai Selasa 20 September 2022 mendatang.
“Dunia kita rusak karena perang, kekacauan iklim, terluka karena kebencian, malu oleh kemiskinan, kelaparan dan tidak setara,” ungkap Guterres sebagaimana dilansir AFP.
“Saat retakan semakin dalam dan kepercayaan menguap, kita perlu bersama-sama mencari solusi,” sambung Guterres.
Pelaksanaan Majelis Umum dalam dua tahun mendatang, PBB mengizinkan para pemimpin dunia untuk mengirimkan pidatonya melalui saluran video. Pada pertemuan kali ini 150 pemimpin dunia dijadwalkan hadir ke New York, Amerika Serikat, untuk mengikuti agenda tahunan ini.
Khusus Ukraina, PBB mengizinkan Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk menyampaikan pidatonya melalui video. Tujuh negara memberikan suara menentang atas kebijakan ini termasuk Rusia. Sebagai bentuk penolakan, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Cina Xi Jinping memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan ke New York.
Hal berbeda ditunjukkan oleh Presiden Iran Ebrahim Raisi dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang menentang keputusan Cina dan Rusia. Padahal, kedua negara tersebut berstatus ‘musuh’ Amerika Serikat yang selama ini menentang invasi Rusia ke Ukraina.
Richard Grown dari Kelompok Krisis Internasional PBB mengatakan bahwa pidato Zelenskyy akan mendapatkan perhatian lebih dari dunia internasional. Ia pun meminta Zelenskyy harus tetap berhati-hati karena banyak politisi non-Barat yang membenci fokus Barat terhadap Ukraina.
“Zelenskyy harus berhati-hati. Banyak politisi non-Barat yang membenci fokus Barat pada Ukraina dan khawatir bahwa perang bisa mengalihkan perhatian internasional dari isu-isu seperti krisis pangan global,” kata Gowan. [Mohamad Deny Irawan]























