Jakarta, Gontornews — Presiden Indonesia, Joko Widodo, resmi memindahkan ibukota Indonesia dari Jakarta ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur, Senin (26/8). Jokowi, sapaan akrab Presiden Joko Widodo, membeberkan beberapa alasan mengapa ibukota Indonesia harus dipindah.
“Beban Jakarta saat ini sudah terlalu berat sebagai pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat keuangan, pusat perdagangan dan pusat jasa, dan juga airport, bandar udara, pelabutan laut yang terbesar di Indonesia,” kata Jokowi dalam konferensi Pers di Istana Presiden, Jakarta.
“Beban Pulau Jawa yang semakin berat dengan penduduk 150 juta atau 54 persen dari total penduduk Indonesia dan 58 persen PDB ekonomi Indonesia ada di Pulau Jawa. Dan Pulau Jawa sebagai ketahanan pangan.”
“Beban ini akan semakin berat, jika ibukota pemerintahan tetap di Pulau Jawa,” ujar Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2014 tersebut.
Di sisi lain, Jokowi menegaskan bahwa pembangunan di Kota Jakarta tidak akan berhenti. Menurutnya, rencana pembangunan Jakarta dengan konsep urban regeneration akan terus berjalan.
“Rencana pemprov DKI Jakarta untuk melakukan Urban regeneration yang dianggarkan sebesar 571 triliun rupiah tetap terus dijalankan dan pembahasannya sudah masuk ke level teknis dan siap dieksekusi,” pungkas Jokowi. [Mohamad Deny Irawan]


















