Suriah, Gontornews— Satu juta rakyat Suriah diambang risiko mati kelaparan disebabkan oleh krisis pangan yang berkepanjangan. Tahun 2021 merupakan krisis tersulit selama satu dekade konflik bersenjata, terlebih akan habisnya resolusi bantuan pangan dan fasilitas penanganan Covid-19 yang buruk.
Tim Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap (ACT) Said Mukaffiy berharap agar Sahabat Dermawan dapat terus berdoa dan berikhtiar pada krisis kemanusiaan untuk saudara-saudara kita di Suriah, terlebih satu juta rakyat Suriah harus menanggung lapar hingga kematian. Said pun mengajak Sahabat Dermawan untuk terus berperan aktif dalam membantu rakyat Suriah.
“Atas nama kemanusiaan, saudara-saudara kita di Suriah sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan agar mereka bisa bangkit dari krisis berkepanjangan ini.” ujar Said dilansir dari laman actnews Selasa (29/6).
Kekhawatiran ini telah disampaikan oleh berbagai lembaga kemanusiaan di Dunia yang sudah memperingatkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) jika gagal memperbarui resolusi perizinan bantuan kemanusiaan dapat dikirim lintas perbatasan antar negara untuk mencapai Suriah. Resolusi tersebut akan berakhir pada 10 Juli mendatang.
Langkah terburuk jika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) gagal memperbaharui resolusi ini, berakibat pada stok kesediaan pangan yang akan habis pada September 2021 mendatang. Itu pun hanya dapat memenuhi kebutuhan 300 ribu rakyat Suriah, menyisakan lebih dari satu juta rakyat lainnya tak menerima bantuan makanan.
“Setelah sepuluh tahun dilanda konflik dan banyaknya orang yang mengungsi, terlebih pandemi Covid-19 memperparah krisis ekonomi. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, yang mana anak-anak Suriah harus melawan kelaparan dan kekurangan gizi. Orang tua mereka juga tak memiliki akses pada makanan yang bergizi dan tak punya pilihan selain menghemat makanan. Ini berdampak pada pertumbuhan anak-anak Suriah, yang memengaruhi kemampuan mereka dalam belajar dan bisa meningkatkan risiko depresi,” ujar Inger Ashing, Direktur Utama Save the Children International.
Bagaimana tidak, konflik bersenjata yang berkecamuk selama lebih dari satu dekade ini menyebabkan krisis pangan, utamanya gandum, akibat lahan pertanian yang semakin sempit. Tak hanya itu, banyak pula toko roti yang terpaksa gulung tikar karena tak bisa beroperasi. Hal ini sekaligus berdampak pada kondisi perekonomian dan tingginya angka inflasi di Suriah.
Kelaparan yang menimpa Suriah juga makin memburuk dalam dekade terakhir, yang mana hampir di semua titik terjadi kelaparan. Bahkan, lebih dari 13 juta orang membutuhkan bantuan pangan, jumlah ini meningkat semenjak konflik yang terjadi pada 2014.



















