Washington, Gontornews – Sebuah penelitian menunjukkan, perubahan iklim menyebabkan beras menjadi kurang bergizi. Para peneliti menemukan bahwa padi yang ditanam di tengah konsentrasi karbondioksida tinggi, gas rumah kaca memiliki kandungan vitamin kunci yang lebih rendah ketimbang musim-musim sebelumnya.
“Jika kita tidak melakukan apa-apa, maka hal ini berpotensi memberikan dampak negatif bagi kesehatan manusia,” ungkap Kristie Ebi, peneliti kesehatan masyarakat dari University of Washington di Seattle sebagaimana dilansir Washington Post.
Dalam studi ini, peneliti melakukan pengujian terhadap 18 varietas padi yang ditanam di luar ruangan yang menjadi sasaran konsentrasi karbondioksida di atmosfer dari 568 hingga 590 bagian per juta. Sedangkan saat ini, konsentrasi karbondioksida berada sekitar 410 bagian per juta.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan penurunan kandungan vitamin pada beras terutama vitamin B1, B2, B5 dan B9. Tidak hanya itu, penelitian ini juga mengonfirmasi turunnya protein, zat besi, dan seng pada beras.
“Sudah ada penelitian selama seratus tahun terakhir tentang pentingnya vitamin B ini,” kata Ebi.
“Salah satu vitamin yang menurun akibat konsentrasi karbondioksida adalah folat. Kita tahu bahwa kekurangan folat bagi wanita hamil dapat mengakibatkan sejumlah masalah saat kelahiran. Jadi vitamin tersebut sangat penting, terutama bagi kesehatan ibu anak dan kita semua,” terang Ebi.
Penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Science Advance itu menyebutkan, beras menyumbang sektiar 25 persen dari semua kalori global. Artinya, beras menjadi komoditi utama pemenuhan gizi di seperempat kebutuhan kalori dunia.
Tidak hanya beras, gandum juga menerima dampak negatif akibat perubahan iklim meski beras menerima dampak negatif secara langsung dari meningkatnya konsentrasi karbondioksida. Sebagaimana diketahui, tumbuhan menarik sebanyak-banyaknya karbondioksida untuk hidup dan ini tidak baik untuk kandungan vitamin yang terkandung dalam beras atau tumbuhan lainnya.
“CO2 adalah makanan nabati yang membuat padi tumbuh lebih banyak,” ungkap Lewis Ziska, salah seorang peneliti dari Departemen Pertanian setempat
“Tetapi seringkali ketika tanaman tumbuh lebih banyak, itu berarti bahwa kualitas tanaman yang tersedia tidaklah sama,” tambah Ziska. [Mohamad Deny Irawan]




















