Sejarah olahraga bola basket mencatat nama Kareem Abdul Jabbar sebagai atlet basket terbaik sepanjang masa. Sederet gelar individu dan klub di kompetisi bola basket terbesar di dunia, National Basketball Associaton (NBA) telah diraihnya.
Pria bertinggi 2,18 meter ini lahir dari keluarga yang beragama Katolik. Meski bukan termasuk keluarga yang taat, keluarganya masih berharap pria bernama asli Ferdinand Lewis Alcindor itu menjadi penginjil ketimbang menjadi pebasket profesional.
Salah satu alasan mengapa Kareem memilih Islam sebagai agamanya adalah karena sosok Malcolm X. Malcolm X oleh masyarakat Amerika Serikat dikenal sebagai tokoh kulit hitam pertama asal Amerika yang berani mendobrak perbedaan kulit putih dan hitam yang terjadi di masyarakat.
Selain Malcolm X, Kareem menyebut jika puncak karir di olahraga basket bersama Los Angeles Lakers dan Milwaukee Bucks juga mengambil peranan besar dalam peralihannya menjadi seorang Muslim. Di puncak karirnya itu, pria kelahiran New York, 16 April 1947, itu tak nyaman dengan popularitas yang diperolehnya.
Publisitas yang diraihnya termasuk kabar bahwa dirinya menjadi seorang Muslim juga menjadi kendala yang dihadapi. Jika boleh memilih, Kareem akan memilih untuk menjadi mualaf dengan cara lebih pribadi tanpa dibarengi publisitas dan komentar dari orang-orang.
Salah satu publisitas yang membuatnya geram adalah publisitas tentang alasan pria yang menggunakan kacamata selama bermain basket tersebut mengubah namanya menjadi Kareem Abdul Jabbar.
Bagi sebagian kawan dan rekannya, nama tersebut terhitung sulit diucapkan. Bahkan, munculnya stigma negatif dari nama tersebut juga sempat membuat Kareem tidak nyaman.
Bahkan, saat penggemarnya yang masih memanggilnya ‘Lew’, Kareem merasa tersinggung. Kareem merasa bahwa para penggemarnya tidak menghormati keyakinan yang dianutnya.
Ia beranggapan, para penggemar hanya menjadikan para idolanya sebagai figur yang menghiasi dunianya saja. Mereka tidak berfikir tentang bagaimana menghormati kehidupan para idolanya sebagai individu yang memiliki keyakinan dan privasi. [Mohamad Deny Irawan/Rus]

















