Sydney, Gontornews — Pemerintah Australia mulai menghitung kerugian materiil akibat kebakaran hutan yang disebabkan gelombang panas, Ahad (5/1). Langkah ini dilakukan menyusul hujan ringan serta menurunnya suhu di bagian tenggara negara bagian New South Wales.
Meski demikian, pejabat terkait tetap memperingatkan bahwa penghitungan mereka bisa saja meleset karena masih terdapat 200 titik api yang menyala di sejumlah wilayah.
“(Kondisi) ini tentu saja merupakan penangguhan selamat datang. Itu adalah bantuan psikologis yang pernah ada,” kata Komisioner Rural Fire Service New Sout Wales, Shane Fitzsimmons, kepada Reuters.
“Tapi sayangnya, (hujan ringan dan turunnya suhu) tidak memadamkan api sepenuhnya,” imbuhnya.
Sebagaimana diketahui, puluhan ribu rumah di negara bagian New South Wales dan Victoria tidak berdaya dalam menghadapi kebakaran. Militer dan pihak kepolisian pun terus melakukan evakuasi terhadap ribuan orang yang terperangkap kebakaran hutan selama berhari-hari di kota-kota pesisir timur Australia.
Perkiraan sementara, ratusan rumah rusak dan hancur. Warga yang berhasil dievakuasi umumnya berasal dari wilayah terdampak kebakaran hutan terparah. Proses evakuasi dilakukan untuk mengurangi jatuhnya korban jiwa.
Sementara itu, pertugas pemadam kebakaran setempat menyebut bahwa suhu di Australia diperkirakan naik kembali dalam satu pekan ke depan.
“Jika kita kita melihat aktivitas cuaca, tingkat penyebaran api, kecepatan penyabaran api, serta cara mereka menyerang pemukiman masyarakat belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkap Perdana Menteri New South Wales, Gladys Berejiklian.
Hingga berita ini diturunkan, ribuan orang yang tinggal di kota-kota pesisir pantai berhasil dievakuasi. Proses evakuasi ini merupakan yang terbesar di Australia setelah pemerintah Darwin mengevakuasi ribuan warga akibat bencana Topan Tracy yang terjadi pada tahun 1974.
Para ahli mengungkapkan bahwa kebakaran hutan di Australia merupakan efek dari perubahan iklim global yang menyebabkan kekeringan ekstrem dalam tiga tahun terakhir. Akibatnya, banyak hutan yang mengering dan sangat rentan terhadap kebakaran hutan. [Mohamad Deny Irawan]






















