New york, Gontornews – Ketika mendengar istilah indera keenam, sebagian orang mungkin akan mengaitkannya dengan hal-hal supranatural, klenik atau indigo yang mampu berbicara dengan makhluk kasat mata. Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa indera keenam tidak saja dimiliki orang spesial dan terbatas tapi dimiliki juga oleh setiap orang berdasarkan gennya.
Sebagaimana dilansir Live Science, sejumlah peneliti menunjukkan bahwa diluar 5 indera yang dimiliki seperti indera pengelihatan, pendengaran, perasa, peraba dan penciuman, manusia memiliki indera keenam yang muncul sesuai dengan keturunan genetiknya. Namanya indera keenam tersebut Proprioception.
Proprioception mengacu pada bagaimana otak memahami tubuh anda dalam sebuah ruangan. Biasanya dilakukan untuk merehabilitasi seseorang pasca-kecelakaan atau operasi. Tes yang dilakukan untuk menguji Proprioception seseorang adalah dengan menggunakan martil pada kaki, seperti yang sering muncul di film.
Dalam istilah kedokteran, proprioception dipahami sebagai persepsi rangsangan yang berhubungan dengan posisi, postur tubuh, keseimbangan atau kondisi dalam tubuh. Sedangkan dalam istilah psikologi, propriosepsi diartikan sebagai kemampuan otak untuk mengetahui letak tubuh tanpa melihatnya.
Menurut para peneliti, gen yang berperan penting dalam mengembangkan indera proprioception adalah gen PIEZO2. Gen ini penghasil protein ‘menchanosensitive’ yakni protein yang bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan untuk merasakan gaya. Misalnya, seseorang bisa meraskan tekanan yang tejadi dibawah kulit. Gen ini memainkan peranan penting dala pemaksimalan indera proprioception.
Untuk memahami efek gen ini, peneliti dari National Institutes of Health (NIH) mengidentifikasi dua pasien muda yang memiliki mutasi gen yang sangat langka ini. Dalam penelitian yang diterbitkan di New England Journal of Medicine, dua pasien tesebut memiliki masalah sendi dan skoliosis atau kondisi melengkungnya tulang belakang secara tidak normal.
Para pasien diminta untuk melakukan beberapa tes terkait gerakan dan keseimbangan. Dalam satu tes misalnya, para peneliti menemukan bahwa pasien memiliki kesulitan berjalan dengan mata tertutup.
Dalam tes lain, pasien diminta untuk meraih sebuah benda yang ada di depan mereka saat mata terbuka dan tertutup. Hasilnya, dibandingkan dengan orang yang tidak memilki mutasi gen, pasien pemilik gen langka ini lebih sulit meraih objek ketika mata tertutup.
Tes lainnya menunjukan bahwa pasien kesulitan dalam menebak arah gerak lengan dan kaki mereka saat dibutuhkan. Bahkan mereka juga kesulitan untuk merasakan getaran dari garpu tala yang didengungkan di kulit mereka.
Percobaan berbeda terus dilakukan dengan mengatakan memberikan persepsi orang yang menyentuh lembut kulitnya dengan sesuatu yang tajam seperti seolah-olah berduri sebagai lawan dari sensasi menyenangkan.
“Pasien yang memiliki gen PIEZO2 tidak dapat bekerja. Sehingga neuron mereka tidak dapat mendeteksi sentuhan atau gerakan anggota tubuh,” kata peneliti utama dari the National center for complementary and integrative health, Bathesda, Maryland, Amerika Serikat.
Selain itu, bagian lain dari sistem saraf pasien tetap bekerja dengan baik. Para pasien tetap bisa merasakan nyeri, gatal dan suhu normal. Pun pasien juga bisa memaksimalkan otak dan sisi kognitifnya untuk mengontrol sebuah objek.
Dalam penelitian sebelumnya, peneliti mengatikan gen PIEZO2 dengan ganggunan muskuloskeletak genetik. Meski demikian, dalam penelitian terbaru menunjukkan jika gen tersebut diperlukan untuk pertumbuhan dan pengembangan tulang. Dengan temuan ini pula menunjukkan jika indera peraba dan indera proprioception juga berperan dalam pertumbuhan tulang. [Mohamad Deny Irawan]


















