Maharashtra, Gontornews — Banyak negara bagian di India mengalami dampak negatif perubahan suhu seperti cuaca ekstrem mulai dari gelombang panas, kekeringan hingga hujan lebat. Situasi ini berdampak langsung pada produksi pangan nasional yang memicu krisis. Pemerintah India menyebut perubahan iklim menjadi salah satu ancaman terbesar bagi ketahanan pangan nasional.
Petani India, Santosh Borade, mengakui bahwa hujan deras dalam beberapa pekan terakhir menghancurkan tanamannya. Padahal, hujan deras merupakan kejadian umum selama musim hujan di India yang berlangsung setiap bulan Juni hingga September.
“Tahun ini banyak hujan. Akibat hujan deras (ini) kami menghadapi kerugian besar,” kata Borade sebagaimana dilansir Channel News Asia.
“Maharashtra belum pernah melihat begitu banyak hujan dalam 50 tahun. Saya belum pernah melihat hujan seperti ini dalam hidup saya,” sambungnya.
Selain hujan, gelombang panas di India Utara juga mempengaruhi produksi pangan pokok nasional seperti gandum dan beras. Situasi ini mendorong pemerintah untuk memberlakukan pembatasan ekspor guna memastikan ketersediaan pasokan dalam negeri serta menjaga harga barang bagi penduduk.
Salah seorang pengamat dari firma analitik Crisil, Pushan Sharma, mengatakan bahwa kenaikan suhu berdampak negatif pada produksi pangan. “Kami melihat seluruh komoditas memiliki korelasi negatif dengan kenaikan suhu, sehingga hasil (produksi) berkorelasi negatif dan cenderung menurun,” ucap Pushan.
Para ilmuwan telah lama memperingatkan konsekuensi parah akibat kenaikan suhu global hingga lebih dari 2 derajat Celcius di atas tingkat pra industri. Dalam istilah pertanian, setiap kenaikan suhu satu derajat membuat 5 persen hasil biji-bijian menurun secara global.
Situasi ini yang kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi ketahanan pangan di India. Risiko krisis pangan akibat kenaikan suhu yang India hadapi ini belum termasuk problem gizi buruk yang juga mereka hadapi. [Mohamad Deny Irawan]





















