Pandemi COVID-19 di Tanah Air meresahkan sejumlah lembaga pendidikan. Beragam perubahan pola pengajaran terus diaplikasikan guna menaati anjuran penerapan protokol kesehatan dari pemerintah. Inilah tantangan baru dunia pendidikan masa kini.
Para tenaga pengajar dituntut untuk lebih fokus menerapkan disiplin kesehatan demi keselamatan bersama. Selain itu, kerjasama yang solid antarlembaga pendidikan, wali murid, dan pejabat pemerintahan, diyakini akan membantu menyelesaikan masalah COVID-19 ini.
Menyikapi fenomena pola pendidikan di atas, wartawan Majalah Gontor Edithya Miranti berhasil mewawancarai Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani MA. Berikut petikannya:
Bagaimanakah pola pendidikan yang diterapkan Pondok Pesantren Al-Amien selama masa pandemi ini?
Pola pendidikan yang diterapkan di Pondok Pesantren Al-Amien pola pendidikan tatap muka dengan beberapa modifikasi, menyesuaikan protokol kesehatan. Pola pendidikan tatap muka dimulai sekitar awal Juli 2020 setelah para santri kembali dari rumah pascaliburan akhir tahun sekitar tiga bulan lamanya. Pola pendidikan ini dipilih setelah melihat tren penurunan positif corona di bulan Mei lalu, dan pemerintah mulai membuka beberapa pelayanan publik. Para santri diwajibkan untuk kembali ke pondok.
Terkait pendidikan tatap muka sebagaimana dijelaskan di atas, pihak pondok melakukan beberapa perubahan, di antaranya peniadaan program pendidikan di siang hari. Program siang diganti dengan program istirahat yang sebelum pandemi tidak ada.
Penerapan pendidikan tetap memperhatikan protokol kesehatan, baik di masjid, kelas, kamar/asrama, dan berbagai fasilitas umumnya lainnya. Di masjid misalnya, jarak antarjamaah diatur sedemikian rupa, termasuk kewajiban memakai masker.
Beberapa program inspiratif yang dilakukan pondok untuk menjaga kesehatan santri, di antaranya pemberian minuman jahe plus serai setiap pagi selama beberapa hari, pemberian ramuan herbal antibody produksi Prof Sukardi, pemberian vitamin C, penyediaan air siap minum dalam tandon di beberapa pojok asrama santri sehingga kebutuhan air setiap santri tercukupi. Pondok juga melakukan gerakan batin, seperti pembacaan qunut nazilah setiap habis shalat, istighatsah, khotmul Qurโan, dan lainnya.
Agar pendidikan di pesantren berlangsung efektif dan pondok terhindar dari penyebaran virus corona, pondok melarang kunjungan tamu dan wali santri selama waktu tertentu.
Apakah ada kendala yang dihadapi Al-Amien selama proses pendidikan di awal masa pemberitaan penularan Covid 19 di lingkungan pesantren?
Keterbatasan sarana kesehatan seperti masker, desinfektan, thermometer gun, penyediaan hand sanitizer, APD. Saat itu, sarana tersebut di pasaran sudah sold out, sehingga kesulitan untuk mendapatkannya. Walau demikian, pihak pesantren mencoba melakukan hal-hal yang mungkin dilakukan, terutama edukasi tentang pentingnya santri menjaga kesehatan diri dan membiasakan untuk hidup sehat.
Kemudian bagaimanakah peraturan pada masa kepulangan dan kedatangan santri lama, sebelum dan sesudah liburan sekolah?
Peraturan saat kepulangan yaitu: 1) Kepulangan santri diatur per konsulat (daerah). 2) Orangtua/wali menjemput di lokasi terdekat. 3) Sebelum diserahkan kepada orangtua/wali setiap santri diperiksa oleh tim kesehatan dari Puskesmas/rumah sakit setempat. Peraturan kedatangan santri: 1) Kedatangan santri diatur per konsulat sesuai daerah, 2) Santri wajib melakukan isolasi mandiri sebelum berangkat ke pondok selama 14 hari, 3) Membawa surat keterangan sehat dari rumah sakit/Puskesmas setempat, 4) Mengikuti tahapan pemeriksaan kesehatan oleh petugas Klinik Al-Amien Prenduan.
Selama 14 hari pertama sejak kedatangan santri, pondok melakukan protokol kesehatan dengan sangat ketat kepada seluruh santri. Hal yang paling rumit, barangkali implementasi jaga jarak di asrama/kamar. Untuk menyiasati hal ini, pihak pesantren juga memanfaatkan ruang kelas, aula, masjid/mushalla, sebagai tempat istirahat santri.
Adakah ketidaksetujuan/kekhawatiran orangtua atau wali santri atas aturan yang ditetapkan oleh pondok?
Mayoritas wali santri setuju mengembalikan putra-putrinya ke pondok sesuai waktu yang sudah ditentukan. Hal itu ditunjukkan dengan angka persentase kedatangan santri ke pondok yang mencapai 97 persen. Sisanya datang terlambat karena beberapa sebab; sakit, kesulitan transportasi, masalah ekonomi, dll. Memang, ada juga wali santri yang khawatir dengan penyebaran virus corona ini. Kepada mereka kami sampaikan bahwa pondok sudah melakukan serangkaian persiapan, seperti penyemprotan desinfektan di semua fasilitas pondok serta pembangunan wastafel di beberapa tempat strategis. Pihak pondok pun menyebarkan foto/video kesiapan pondok menerima santri kepada wali santri, alumni, dan masyarakat luas melalui berbagai media sosial.
Bagaimana cara Al-Amien menenangkan hati para wali santri agar tetap memondokkan anaknya di pesantren?
Untuk menenangkan para wali santri, pihak pondok menyampaikan informasi perkembangan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran secara berkala melalui berbagai sarana media, terutama media sosial. Informasi itu menggambarkan bagaimana para santri aktif mengikuti setiap kegiatan pondok yang ada tanpa ada rasa khawatir dan takut.
Adakah forum komunikasi khusus yang disediakan pihak pondok untuk para wali santri yang ingin menanyakan informasi terkini terutama soal ada tidaknya penyebaran COVID-19 di tengah-tengah santri?
Pesantren tidak menyediakan forum komunikasi khusus bagi wali santri. Pihak pondok menjadikan semua direktur dan kepala sekolah sebagai public relation yang siap melayani dan memberikan informasi yang akurat tentang pondok.
Di era pandemi, bagaimanakah jumlah santri baru yang masuk ke Al-Amien tahun ini?
Jumlah santri baru relatif stabil. Walaupun ada penurunan, tetapi tidak signifikan. Tahun 2020 jumlah santri yang mondok di Al-Amien berjumlah 2.216 orang. Angka ini mengalami penurunan sebesar 4,21 persen dibandingkan jumlah santri baru tahun 2019 yang berjumlah 2.411 orang. Mestinya pendaftaran tahun ini melebihi angka tahun lalu. Hal itu berdasar rekap sementara pendaftaran online. Tetapi ketika proses penyerahan, beberapa calon santri mengundurkan diri, terutama yang berasal dari daerah luar Jawa. Penyebabnya antara lain kesulitan untuk berangkat karena daerahnya masih lockdown dan tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan tes swab/rapid tes sebagai syarat perjalanan.
Adakah pemberitahuan dan penegasan yang disampaikan pemerintah kepada pesantren, terkait pembelajaran di pesantren saat masa pandemi ini?
Pemerintah Daerah Sumenep dan Kementerian Agama Kabupaten Sumenep menyampaikan beberapa pedoman tentang protokol kesehatan dan pedoman teknis pelaksanaan pembelajaran di pesantren. Pedoman kesehatan dan pelaksanaan pembelajaran tersebut kemudian diadopsi dan dimasukkan dalam SOP yang disusun khusus oleh pihak pesantren.
Adakah kerjasama antara pihak pondok dengan pemerintah dalam mencegah dan mengatasi penularan COVID-19 di pondok?
Sejak awal penyebaran COVID-19, pihak pesantren membangun komunikasi dan kerjasama intensif dengan pemerintah. Mulai Pemerintah Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Sumenep, Kementerian Agama Sumenep, Satgas COVID-19 Kab. Sumenep, Puskesmas Kecamatan Pragaan, hingga Kepolisian Resort Sumenep. Pihak pemerintah banyak memberikan bantuan berupa alat-alat kesehatan (masker, cairan desinfektan, thermometer gun, APD), maupun bantuan tenaga.
Apa hikmah bagi pesantren atas sekelumit kejadian di masa pandemi COVID-19 ini?
Pertama, semakin menguatkan keyakinan betapa pendidikan tauhid ditanamkan kepada para santri. Melalui corona, Allah SWT menunjukkan kekuasaan dan kekuatan-Nya yang menyebabkan manusia tidak berdaya. Untuk itu, pihak pesantren senantiasa mengajak lebih meningkatkan taqarrub kepada-Nya.
Kedua, pentingnya menerapkan pola hidup sehat dan hidup disiplin. Ketiga, pentingnya membangun kebersamaan. Bagi kami, kebersamaan itu sangat terasa manakala semua guru bersinergi dan bersatu padu melaksanakan tugas yang sudah dibebankan, seperti menjaga pintu masuk pesantren, dll.
Adakah pesan yang ingin disampaikan kepada lembaga pendidikan dalam menyikapi pandemi?
Kepada pemangku kebijakan di lembaga pendidikan, khususnya pesantren, agar menyikapi pandemi corona ini secara proporsional dan tidak berlebihan. Antarpesantren perlu mempererat hubungan dan komunikasi yang positif. Terutama tentang pentingnya mengedukasi masyarakat bahwa pesantren merupakan tempat yang in syaa Allah aman dan nyaman sebagai tempat belajar dan menuntut ilmu para remaja Muslim dan Muslimah.
Apa pesan Anda kepada umat Islam di tengah pandemi COVID-19 ini?
Apa pun kondisinya, umat Islam jangan sampai kehilangan kendali dan jatidiri. Sebagai seorang Muslim harus yakin betul bahwa Allah SWT yang memberi ujian/musibah melalui virus corona ini. Karena itu, selain melakukan upaya-upaya pencegahan dan pengobatan yang bersifat lahir, setiap Muslim harus senantiasa melakukan instrospeksi diri dan mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Kembali ke jalan Allah SWT merupakan cara terbaik terhindar dari virus corona ini. Wallahu aโlam.ย []




















