Washington, Gontornews — Menyusul ketegangannya dengan Iran, AS berencana untuk mengirimkan lagi pasukannya di Timur Tengah. Sebanyak 1.000 pasukan AS akan di tempatkan di beberapa wilayah di Timur Tengah.
Hal itu disampaikan Penjabat Menteri Pertahanan AS, Patrick Shanahan dalam sebuah pernyataan yang dikutip Reuters, Senin (17/6).
Shanahan mengatakan pengerahan ribuan pasukan sebagai bentuk tanggapan atas perilaku Iran, terlebih pasca penyerangan dua kapal tanker yang dituduhkan kepada Iran beberapa hari lalu.
Selain itu, penempatan pasukan tersebut juga untuk memperkuat pertahanan AS di Timur Tengah dari ancaman Iran.
“Saya telah memberi otorisasi kepada sekitar 1.000 tentara tambahan untuk memperkuat pertahanan dan mengatasi ancaman udara, laut, dan darat di Timur Tengah,” katanya.
Kepala Pentagon Itu juga menjelaskan, serangan yang dilancarkan Iran beberapa hari lalu telah membuat pihaknya mempersiapkan intelejen yang handal untuk menjaga kepentingan AS di seluruh kawasan tersebut dari kemungkinan ancaman Iran.
“Amerika Serikat tidak mencari konflik dengan Iran,” tegasnya.
Pernyataan tersebut juga, menambahkan jika penempatan seribu pasukan AS juga bertujuan untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan personel militer mereka yang saat ini sudah berada dan bekerja di seluruh kawasan, “Dan tentunya juga untuk melindungi kepentingan nasional kami,” ucapnya.
Pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih itu disampaikan beberapa jam setelah militer AS merilis foto-foto baru yang diklaimnya sebagai Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang berada di belakang serangan terhadap dua kapal tanker di dekat Selat Hormuz.
Kekhawatiran konfrontasi antara Iran dan AS telah meningkat sejak Kamis lalu ketika dua kapal tanker minyak diserang, serta memunculkan kecaman dari AS dan sekutu regionalnya, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Iran mengatakan pada hari Senin bahwa pihaknya akan melanggar kepatuhan dengan komitmennya terhadap kesepakatan nuklir dengan terus memperkaya uranium yang disebut juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih dengan pemerasan nuklir.
Kesepakatan 2015, yang dipertahankan Iran dan para penandatangan lainnya setelah keputusan Presiden Donald Trump untuk membatasi stok uranium yang diperkaya rendah pada 300 kg menjadi 3,67 persen.
Ketegangan antara Teheran dan Washington telah meningkat sejak AS keluar dari kesepakatan nuklir Mei lalu, timbah dengan upaya Washington memperkuat kehadiran militernya di kawasan itu dan memasukkan daftar hitam Pengawal Revolusi elit Iran sebagai organisasi teroris.[Devi Lusianawati]





















