Ponorogo, Gontornews — Di hadapan rombongan Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla dalam kunjungannya ke Gontor untuk meresmikan Pusat Studi Ekonomi Islam dan menara masjid jami’ Gontor, Kamis (3/10), Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan, Pondok Modern Darussalam Gontor telah menanamkan jiwa nasionalisme kepada setiap santrinya sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.
Hal tersebut di antaranya terbukti dari kumandang lagu-lagu kebangsaan Indonesia dalam berbagai kegiatan Pondok sejak sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Bapak Wapres, di Gontor ini, santri-santri sejak sebelum Indonesia merdeka sudah menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan patriotisme ke-Indonesia-an,” jelas Kiai Hasan dalam sambutannya.
Selanjutnya Kiai Hasan menegaskan, Gontor sejak berdiri tahun 1926 hingga sekarang selalu bersama dan memperjuangkan NKRI melalui jalur pendidikan dan tidak berpolitik praktis. Kiai Hasan menjelaskan, “Sejak awal Gontor tidak berpolitik praktis. Politik Gontor adalah politik pendidikan. Maksudnya, Gontor mendidik dan membina kader umat sehingga mampu menjadi politikus-politikus yang baik serta siap menjaga, memperjuangkan, dan menguatkan NKRI.”
Ternyata prinsip dan sikap Gontor tersebut disetujui dan direstui oleh semua Presiden Republik Indonesia. Hal tersebut terbukti dari apresiasi ketujuh Presiden RI atas Gontor dan pernyataan beliau semua, bahwa Gontor adalah aset bangsa dan negara Indonesia. “Alhamdulillah Bapak Wapres. Ketujuh Presiden RI telah berkunjung ke Gontor dan menyebut Gontor sebagai aset bangsa dan negara. Semoga ini bukan sombong dan riya’. Tetapi ini sebagai kesyukuran kami,” ungkap Kiai Hasan.
Kiai Hasan melanjutkan sambutannya dengan berkisah tentang kekayaan alam melimpah dari bumi Indonesia. Beliau menceritakan kunjungannya ke Sorong, Papua beberapa minggu lalu untuk memenuhi undangan salah satu pesantren alumni Gontor di bumi Cenderawasih tersebut. Dalam kunjungannya, beliau menyaksikan secara langsung kekayaan alam melimpah dari salah satu pulau terbesar Indonesia itu.
Lebih lanjut Kiai Hasan mengingatkan pentingnya menjaga dan menguatkan persatuan serta kebhinekaan Indonesia. “Saya tidak rela ada kaki-kaki asing masuk, menguasai, dan merusak tanah air, bangsa, dan negara Indonesia. Jangan sampai Indonesia dipecah-pecah. Jangan sampai Indonesia dikoyak-koyak dan dikotak-kotakkan,” pesan Kiai Hasan dengan suara lantang.
Berikutnya Kiai Hasan menjelaskan, Gontor selalu berkomitmen dalam mendidikkan empat (4) pilar kebangsaan Indonesia: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Bahkan Gontor juga mendidikkan puluhan pilar kebangsaan lainnya kepada para santri. “Jadi, kalau hanya mendidikkan empat pilar kebangsaan kepada semua santri Gontor tsb, in syaa Allah tidak sulit,” ungkap Kiai Hasan dengan penuh optimisme.
Kemudian Kiai Hasan memberikan penekanan pada NKRI sebagai pilar kebangsaan yang telah final dan harus diperjuangkan hingga akhir hayat. “Jika disuarakan, bahwa NKRI harga mati, itu kurang menurut saya. Bagi saya, NKRI adalah harga mati, sampai mati. Inilah salah satu bukti, bahwa pesantren selalu cinta tanah air Indonesia,” tegas Kiai Hasan disambut tepuk tangan 5000 hadirin yang memadati Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) Gontor dan area sekitarnya.





















