Lamongan, Gontornews — Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, silaturahim ke Pondok Pesantren Al-Munawwarah Brondong, Lamongan, Selasa (24/11). Dalam kesempatan tersebut, Kiai Hasan menyampaikan kepada setiap santri dan seluruh elemen pondok untuk pandai menjaga diri, menahan diri, dan menjaga jati diri.
“Jangan lupa, kalian harus pandai-pandai menjaga diri, menahan diri dan jangan sampai kamu melupakan jati dirimu,” kata Kiai Hasan di depan santri Pondok Pesantren Al-Munawwarah, Lamongan.
Kiai Hasan lantas mengingatkan setiap santri bahwa menuntut ilmu merupakan setinggi-tingginya pekerjaan. Bahkan, keikhlasan dalam menuntut ilmu, Allah SWT akan memerintahkan malaikat untuk melindungi penuntut ilmu.
“Malaikat itu hormat pada orang yang menuntut ilmu. Apalagi ilmu yang nafi’ (bermanfaat). Ilmu nafi’ itu adalah ilmu yang pasti mengantarkanmu ke surga Allah SWT,” ungkap Kiai Hasan dalam rilis yang diterima Gontornews.com.
Kiai Hasan menambahkan bahwa meninggalnya seorang penuntut ilmu adalah syahid. Semua syuhada adalah pahlawan. Namun tidak semua pahlawan adalah syuhada.
“Lha antum, insya Allah syahidun fii hayatika wa syahidun fii mautika,” jelas putra pendiri Gontor, KH Ahmad Sahal, tersebut.
Kiai Hasan lantas bersyukur atas perkembangan Ponpes Al-Munawwarah. Saat pertama kali silaturrahim ke Ponpes Al-Munawwarah, jumlah santri masih 4 dan gedung yang terbangun baru satu, yakni gedung yang menghadap ke timur.
“Saya bersyukur, waktu pertama ke sini gedungnya baru satu, setengah jadi,” kenangnya.
Kini, Ponpes Al-Munawwarah terus berbenah, membangun dan melengkapi fasilitas pondok. Kiai Hasan yakin dengan izin Allah dan usaha para pimpinan pondok bahwa Ponpes Al-Munawwarah akan berkembang pesat, baik sarana prasarana maupun jumlah santrinya.
“Pakai 3D. DAYA upaya yg benar dan kerja yang keras. DANA yang halal dan DOA yang khusyu,” ucap Kiai Hasan.
Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Ponpes Al-Munawwarah menyampaikan terima kasih atas kehadiran KH Hasan Abdullah Sahal untuk yang kedua kalinya. [Mohamad Deny Irawan]




















