Boleh Jadi Kisah ‘Sendal Santri’ dari Ciamis ini mengulangi kisah terompah sahabat Bilal RA. Berikut adalah reportase sahabat bernama pena Dara Lana Tan. Tulisannya membahana Medsos.
Penantian saya dan orang-orang yang berbaris di sepanjang Jala Raya Cileunyi (Bandung), tidak sia-sia pun tidak surut walau hujan terus mengguyur.
Begitu rombongan pendemo dari Ciamis yang berjalan kaki muncul dari kejauhan, semua bersiap. Kami berdiri, berbaris panjang sekali di tepi jalan, menenteng kresek dan kardus berisi segala macam yang bisa kami berikan. Air minum dalam kemasan, hansaplast, jamu dalam kemasan sachet siap minum, masker untuk jaga-jaga jika nanti gas air mata disemburkan penguasa, sandal jepit, jas hujan dan pakaian ganti, plus sekantung plastik roti, donat, permen, buah, cemilan dlsb dalam satu plastik berbentuk paketan, kami bagikan.
Mereka, menerima dengan sangat senang hati. Takbir bersahutan tiada henti. Hujan, banjir, tidak menyurutkan massa untuk berkumpul memanjang dari ujung Jalan Raya Cileunyi sampai Bundaran Cibiru, dan sepanjang Jalan Soekarno-Hatta sampai Kantor Perhutani Soekarno – Hatta.
Yang membuat saya merinding, seorang santri kecil berusia 8 tahun, terlihat ikut berjalan bersama rombongan. TANPA ALAS KAKI, mengatupkan kedua telapak tangan dan menggigil kedinginan diguyur hujan.
Segera saya “tewak” (renggut) dan tarik ke pinggir anak itu.
“Sandalnya mana?” tanya saya.
“Putus, Bu. Jadi saya buang…” katanya.
Seorang dari kami menyodorkan sepasang sandal jepit baru.
“Bawa baju ganti?” tanya saya lagi.
Anak itu menggeleng.
Saya tarik makin ke tepi, tepat di teras Bank BJB ini. Saya minta dia melepas plastik kantung yang dipakainya untuk menahan hujan. Ternyata baju seragam santri yang dipakainya pun basah kuyup. Segera kami sodori sehelai kaos panjang dan celana training panjang, lalu dia memakai jas hujan yang juga kami sodorkan.
“Kenapa ikut?” tanya saya.
“Ngagentosan (menggantikan) pun Bapa (ayah saya)…” jawab anak lelaki itu.
“Bapa ade ka mana (Bapakmu ke mana)?” tanya saya sambil menggenggam kan beberapa lembar uang.
“Atos ngatunkeun (sudah tiada)…” jawab seorang santri dewasa yang muncul di belakangnya.
Ada rasa nyeri yang menyayat perut di bawah iga kanan saya.
Entah apa yang ada di benak para penghina, penyinyir dan penista yang kedua orang tuanya masih lengkap, berusia dewasa, punya biaya, uang banyak, gagah perkasa DAN dia MUSLIM, tapi bisanya cuma menyinyiri, menista dan menghina…
Rombongan lewat, semua logistik paketan habis kami bagikan. [DJ]
Kisah Terompah Bilal R.A ada disini:
http://bit.ly/2fO4SV0.




















