Kuala Lumpur, Gontornews — Kemenangan di negara bagian Sabah kemungkinan akan memperkuat posisi Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, saat menghadapi tantangan pemimpin oposisi, Anwar Ibrahim.
Aljazeera.com merilis, koalisi berkuasa Perdana Menteri Muhyiddin telah memenangkan pemilihan di negara bagian Sabah. Pemungutan suara ini banyak yang melihat sebagai referendum pada pemerintahannya yang berusia tujuh bulan.
Kemenangan di negara bagian Sabah di Kalimantan kemungkinan akan memperkuat posisi Muhyiddin saat dia menghadapi tantangan kepemimpinan dari pemimpin oposisi Anwar Ibrahim, yang pekan ini mengatakan memiliki mayoritas parlemen yang dibutuhkan untuk menggulingkan perdana menteri.
Koalisi Perikatan Nasional (PN) Muhyiddin dan sekutunya memenangkan 38 dari 73 kursi yang diperebutkan dalam pemilihan hari Sabtu (26/9), nyaris mengambil kendali dari negara (bagian) yang sebelumnya dikuasai oposisi.
Muhyiddin sebelumnya mengatakan bahwa kemenangan di Sabah dapat membuka jalan bagi pemilihan nasional lebih awal yang bertujuan mengakhiri ketidakpastian atas stabilitas aliansi yang berkuasa, yang memiliki mayoritas dua kursi di parlemen.
Para analis telah memperingatkan kekalahan di negara bagian Sabah akan bisa berarti akhir dari pemerintahan koalisinya yang retak.
Muhyiddin berkuasa pada Maret setelah membentuk aliansi dengan partai-partai oposisi menyusul pengunduran diri yang mengejutkan dari pendahulunya, Mahathir Mohamad.
Lawan Muhyiddin menuduhnya mencuri kekuasaan dengan menggeser aliansi, bukan di kotak suara, dan sekutunya telah menekannya selama berbulan-bulan untuk menyerukan pemungutan suara nasional cepat untuk mengamankan mandat yang kuat.
Walaupun hasil pemilihan di Sabah tidak secara langsung mempengaruhi perimbangan kekuasaan di tingkat nasional, tapi itu merupakan ujian utama popularitas Muhyiddin.
Jika dia melakukannya dengan buruk, mitra koalisi mungkin telah menarik dukungan mereka dari pemerintahnya dan memaksakan pemilihan nasional secara cepat.
Tes pertama
Namun Bridget Welsh, pakar Malaysia dari Universitas Nottingham, memperingatkan bahwa masalah Muhiyddin masih jauh dari selesai.
“Dia lulus tes pemilihan besar pertama, tapi nyaris tidak,” katanya kepada kantor berita AFP.
Awal pekan ini, pemimpin oposisi Anwar mengklaim bahwa dia telah mendapatkan dukungan dari mayoritas anggota parlemen, dan mengatakan koalisi Muhyiddin telah runtuh.
Namun, dia menolak untuk mengungkapkan jumlah anggota parlemen yang mendukungnya sementara raja, yang menunjuk perdana menteri negara, telah menunda janji untuk menemuinya karena kesehatan yang buruk.
Adib Zalkapli, direktur konsultan risiko politik BowerGroupAsia, mengatakan kepada kantor berita Reuters, bahwa dengan kemenangan di Sabah, koalisi Muhyiddin “sekarang dapat dengan percaya diri memimpin koalisi federal dalam pemilihan umum.”
Dia akan menggunakan kemenangan itu untuk mengabaikan tantangan apa pun terhadap kepemimpinan federal.
Perebutan kekuasaan terjadi ketika ekonomi Malaysia terhuyung-huyung akibat dampak pandemi COVID-19.
Muhyiddin telah mengumumkan paket stimulus sebesar 305 miliar ringgit ($ 73,16 miliar), termasuk langkah-langkah tambahan yang diumumkan hanya tiga hari menjelang pemungutan suara di Sabah. []


















