Di sebuah desa sederhana di Krajan, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah—yang mayoritas warganya petani sederhana—tercatat sebuah peristiwa spiritual dan sosial yang sangat menggetarkan hati: masyarakatnya berhasil berkurban hingga mencapai total 25 ton daging. Terdiri dari 73 ekor sapi dan ratusan kambing. Sebuah angka yang luar biasa untuk ukuran desa sederhana, bahkan mengalahkan pencapaian daerah-daerah yang secara ekonomi jauh lebih mapan.
Saya pribadi, sejak awal, sudah dapat menangkap getaran semangat itu. Biasanya, masyarakat dengan karakteristik seperti ini memiliki fondasi ideologis dan spiritual yang kuat serta tauhid yang dalam. Dan benar saja, terlihat kaos-kaos bertuliskan “Muhammadiyah” dan “KOKAM” (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) dikenakan dengan bangga oleh para panitia dan relawan. Pemandangan ini seketika mengingatkan saya pada komunitas Kampung Mambil, Gandu, Mlarak, Ponorogo, Jawa Timur dan tempat-tempat lain, yang ghirah (semangat) keislaman dan pengurbanannya begitu membara, meskipun secara ekonomi mereka hidup dalam kesederhanaan.
Bukan Soal Jumlah, Tapi Etos dan Nilai
Apa yang terjadi di Batur bukan sekadar tentang jumlah hewan kurban atau tonase daging, tetapi tentang nilai, semangat, dan orientasi hidup. Di tengah arus kehidupan modern yang cenderung konsumtif dan materialistis, masyarakat ini justru menunjukkan orientasi ibadah dan sosial yang tinggi. Mereka memahami bahwa kurban bukan hanya perintah syariat, melainkan bentuk kepasrahan, cinta, dan pengabdian kepada Allah.
Mereka mungkin tidak memiliki kekayaan berlimpah, tetapi mereka memiliki hati yang lapang, jiwa yang besar, dan tekad yang kuat untuk menjadikan ibadah sebagai skala prioritas utama. Hal ini ditandai dengan masjid di kampung ini yang selalu penuh saat berjamaah shalat lima waktu.
Muhammadiyah dan Tradisi Berkurban
Tidak dapat dipungkiri, dalam sejarahnya, Muhammadiyah telah menanamkan nilai-nilai tauhid murni, amal shalih kolektif, dan kesadaran sosial sejak masa pendiriannya. Dalam konteks kurban, Muhammadiyah bukan hanya menggalakkan semangatnya, tetapi juga menyusun sistem dan edukasi agar umat Islam di akar rumput mampu menjadikan kurban sebagai budaya tahunan.
Keberadaan KOKAM di lapangan sebagai relawan pengatur dan penyalur kurban juga menandakan adanya disiplin, militansi, dan keikhlasan yang lahir dari pendidikan ideologis yang kokoh.
Pelajaran untuk Umat Islam yang Lebih Luas
Apa yang dilakukan masyarakat Batur menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa keikhlasan dan komitmen jauh lebih menentukan daripada jumlah kekayaan. Bahwa ibadah sosial seperti kurban bukan semata-mata soal mampu atau tidak, tetapi soal kemauan dan keyakinan.
Mereka telah membuktikan bahwa kesederhanaan hidup tidak membatasi mereka untuk memberi yang terbaik bagi agama dan sesama. Ini manifestasi nyata dari ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang menjadi simbol kepasrahan, pengurbanan, dan cinta ilahi yang tulus.
Allahu Akbar, walillahilhamd…
Saya pribadi merasa terharu, kagum, dan bangga. Semoga semangat ini terus menyebar ke pelosok-pelosok lain, dan menjadi inspirasi umat dalam membangun peradaban Islam yang kokoh—bermula dari desa, dari para petani, dari mereka yang hatinya paling bersih.
Barakallahu fiikum, warga Krajan Batur.
Semoga Allah menerima seluruh kurban kalian sebagai amal jariyah yang tiada putus hingga akhir hayat. []
DA, 9 Juni 2025





















