Beirut, Gontornews — Pemerintah Lebanon, Rabu (1/9/2021), mengaku tidak ada permintaan izin atas impor bahan bakar dari Iran. Reuters menduga Hizbullah menjadi dalang impor bahan bakar asal Iran tanpa persetujuan pemerintah.
Bulan lalu, Hizbullah, mengumumkan bahwa perngiriman bahan bakar minyak asal Iran sedang dalam perjalanan untuk meringankan beban dalam negeri.
Sebagai informasi, Hizbullah merupakan kelompok bersenjata yang didirikan oleh pengawal Revolusi Iran pada 1982. Kini, kelompok tersebut menjadi faksi paling kuat di Lebanon. Mereka juga telah menjadi bagian dari sistem pemerintahan selama bertahun-tahun.
Krisis bahan bakar yang mendera Lebanon telah memaksa layanan-layanan penting untuk tutup hingga pengurangan operasi.
Penentangan Hizbullah tersebut telah merusak otoritas negara dan mebuat Lebanon terancam risiko sanksi dari Amerika Serikat.
Menteri Energi Lebanon sementara, Raymond Ghajar, mengaku bahwa pemerintah belum mendapatkan permintaan izin impor bahan bakar asal Iran.
“Peran kami terbatas pada izin impor. Kami tidak menerima permintaan izin,” katanya sebagaimana dilansir Reuters.
“Tidak. Kami tidak memiliki informasi. Mereka tidak meminta izin kepada kami. Hanya ini yang bisa saya katakan,” sambung Ghajar.
Menurut informasi, Iran berencana mengirim 3 kapal tanker berisi bahan bakar minyak untuk Lebanon. Situs Tanker Tracker, yang memantau pengiriman dan penyimpanan minyak, menyebut baru 1 dari 3 kapal tanker minyak asal Iran tujuan Lebanon. Satu kapal yang sudah berada dalam perjalanan sudah berada di Laut Merah bagian Selatan. Sementara dua kapal lainnya masih bersandar di pelabuhan Iran.
“Kapal tanker pertama seharusnya sudah berada di bagian Selatan Laut Merah,” kata Hizbullah.
Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, yang juga sekutu Hizbullah, mengatakan pada Selasa (31/8/2021) akan menyambut setiap dukungan dari dunia internasional. Sekalipun bantuan yang datang berasal dari Iran. [Mohamad Deny Irawan]





















