Beirut, Gontornews — Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, mengatakan impor bahan bakar asal Iran ke Lebanon merupakan pelanggaran kedaulatan negara. Pemerintah Lebanon mengaku tidak memberikan izin untuk impor bahan bakar jenis solar asal Iran.
Hizbullah telah menyimpan cadangan solar di daerah Baalbek milik perusahaan energi Al-Amana, Iran. Al-Amana, diketahui, masih berada di bawah sanksi Amerika Serikat sejak Februari 2020 karena memiliki hubungan dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Kamis (16/9/2021) lalu, kapal tanker Al-Amana sedang berada dalam perjalanannya menuju Lebanon melalui Pelabuhan Beirut. Kedatangan pasokan bahan bakar tersebut diharapkan dapat meringankan krisis energi yang melanda Lebanon dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam perjalananna, kapal tanker tersebut membawa bahan bakar ke Suriah dan selanjutnya menyebrang ke Lebanon. Kedua negara, Suriah dan Lebanon, masih berada pada sanksi embargo pemerintah Amerika Serikat.
“(Pengiriman bahan bakar jenis solar dari Iran merupakan) pelanggaran kedaulatan Lebanon yang membuat saya sedih,” kata Najib Mikati dalam sebuah wawancara oleh CNN yang dilansir Reuters.
“Tetapi saya tidak khawatir bahwa sanksi dapat dikenakan kepada Lebanon karena operasi itu dilakukan tanpa keterlibatan pemerintah Lebanon,” sambung Mikati.
Jum’at (17/9/2021) malam waktu setempat, penyiar media Lebanon, LBCI, mengatakan bahwa sejumlah kapal tanker pembawa bahan bakar asal Iran memasuki wilayah Lebanon melalui wilayah Hermel. Wilayah Hermel sendiri merupakan wilayah yang dihuni oleh sebagian besar masyarakat Syiah serta pendukung setia Hizbullah. [Mohamad Deny Irawan]





















