Khartoum, Gontornews — Menteri Kesehatan Sudan, Akram El Toom, mengonfirmasi bahwa ada lima orang warga Sudan yang meninggal akibat Kolera dalam rentang 28 Agustus-10 September 2019. Pernyataan ini disampaikan oleh El Toom menyusul masuknya laporan 67 kasus kolera dengan 18 orang menerima perawatan intensif di ruang isolasi rumah sakit El Roseires dan Ed Damazin, Jumat (13/9).
Guna menangani wabah kolera ini, organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) dikabarkan telah berkomunikasi dengan otoritas kesehatan Sudan dan mintra lainnya terkhusus di negara bagian Blue Nile, Sudan Tenggara.
Sebagaimana dilansir Reuters, tim Kementerian Kesehatan Sudan dan WHO dikabarkan telah melakukan perjalanan ke sejumlah negara bagian di Sudan untuk mendukung sanitasi dan langkah-langkah keamanan air, pembuangan limbah hingga keamanan pangan.
Sementara itu, sebagaimana dilansir Radio Dabanga, Komite Dokter Blue Nile telah mengonfirmasi bahwa dua orang tewas akibat Kolera di rumah sakit El Reseires dan E Damazin, Rabu (11/9). Dengan demikian, Kementerian Kesehatan Sudan telah mengonfirmasi total 5 orang warga Sudan tewas akibat wabah Kolera. Para korban diduga berasal dari El Roseires, E Damazin, Wad El Mahi dan Geisan.
Menkes Akram El Toom bahkan telah mendapatkan informasi mengenai penyebaran wabah Kolera di Sudan dan tengah mempertimbangkan langkah-langkah guna menghadapi penyebaran wabah Kolera secara meluas seperti meminta WHO untuk mengimpor vaksin Kolera ke Sudan.
Secara umum, Kementerian Kesehatan merilis 51 kasus diare akut di negara bagian Blue Nile dengan 3 orang pasien dikabarkan meninggal dunia.
Melalui Laboratorim Kesehatan Masyarakat Nasional Kementerian Kesehatan Sudan, otoritas kesehatan Sudan melakukan sampel dan menemukan bahwa empat dari enam sampel positif terkena pemicu wabah kolera, Vibrio cholerae. [Mohamad Deny Irawan]





















