Ponorogo, Gontornews — Ma’had Al-Muqoddasah Li Tahfidzil Qur’an Ahad lalu menggelar acara perpisahan Santri/ah akhir tahun. Dalam acara yang diselenggarakan akhir pekan lalu, Pimpinan Ma’had Al-Muqoddasah Li Tahfidzil Qur’an, KH. Hasan Abdullah Sahal, memberikan pesan dan nasihat kepada seluruh lulusan baik dari jenjang SD, SMP hingga SMA.
Di hadapan para wali santri dan tamu yang hadir dalam acara tersebut, Kiai Hasan menyampaikan bahwa santri yang menimbah ilmu di pondok pesantren harus banyak bersyukur, termasuk yang belajar di Ma’had Al-Muqoddasah Li Tahfidzil Qur’an.
“Di sini tidak membedakan antara santri yang menunggak dan yang belum lunas pendidikan, semua mendapatkan pendidikan yang sama,” ungkap Kiai Hasan.
Selain itu, ungkapan syukur juga harus dirasakan santri, sebab hanya di pondoklah anak akan diajarkan tentang bagaimana menghargai dan menghormati ilmu. Begitu juga, di pondok pula santri diajarkan untuk menghormati guru dan ulama.
Belajar di pondok pesantren selama 24 jam tidak akan bisa dirasakan anak-anak yang mengeyam pendidikan umum di luar. Waktu 24 jam, santri banyak belajar, mulai dari kemandirian, kedisiplinan, kebersamaan, kekeluargaan dan masih banyak lagi.
“Alhamdulillah di pesantren pendidikan berlangsung 24 jam,” tambahnya.
Meski demikian, Kiai Hasan juga mengakui bahwa banyak orang di luar yang iri dengan orang pintar dan orang kaya, bahkan banyak di antara mereka juga tidak menyukai melihat pesantren maju dan disukai banyak orang.
Menurutnya, orang-orang yang tidak menyukai pesantren maju dan berkembang akan melakukan berbagai cara untuk menjelek-jelekkan pondok bahkan sampai meneror siapa pun yang berniat untuk memasukkan anak-anak mereka ke pondok. “Mereka itu teroris, yang meneror siapa saja yang ingin masuk pondok,” tegasnya.
Pimpinan Pondok Modern Gontor itu juga menyampaikan bahwa para santri, khususnya yang akan berkhidmat di masyarakat harus bisa menjadi inspirator dan tidak menjadi imitator. “Anakku yang tamat tahun ini, in syaa Allah ukhuwahnya tetap, hubungannya tetap,” pesannya.
Selain memberikan nasihat dan pesan kepada para santri akhir tahun, Kiai Hasan juga memberikan wejangan kepada wali santri yang hadir. Yaitu bahwa wali santri harus memiliki cita-cita yang tinggi untuk anak-anaknya.
“Menjadikan anak-anak kita Hafizh/Hafizhah Al Qur’an yang profesional di profesinya,” ucapnya.
Namun demikian, tidak semua orang tua yang bisa mencapai cita-cita tersebut, yaitu ketika anak meminta untuk pulang dan tidak melanjutkan pendidikannya di Ma’had Al-Muqoddasah Li Tahfidzil Qur’an, maka tidak boleh pesimis. “Mending punya cita-cita meskipun tidak hasil, daripada tidak punya cita-cita sama sekali,” ungkapnya. [] Devi Lusianawati





















