Masih terngiang dalam benak kami, suasana pendidikan tahfidz bagi usia dini di Ma’had Al-Quds Li Tahfidzil Qur’an di Cibeureum, Cugenang, Cianjur. Bak rombongan murid PAUD, anak-anak berusia tiga tahun hingga belasan tahun beramai-ramai menghafal Al-Qur’an di asrama tanpa kehadiran keluarga ataupun sanak saudara.
Tetapi, lantunan suara merdu bacaan Al-Qur’an dari anak-anak kecil, yang bisa jadi belum ‘aqil baligh, tentu memiliki ‘cita rasa’ yang berbeda dengan mereka yang sudah dewasa. Jangan tanyakan seberapa bahagianya tim pengajar yang menangani anak-anak spesial tersebut. Jangan tanya pula seberapa bangganya seorang pewakif yang tanahnya digunakan untuk memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dari lisan, tanpa dosa, anak-anak berusia sangat muda.
Kami pun yang bertindak sebagai tamu, tidak bisa menutupi kebahagiaan batiniyah yang kami rasakan selama berada di lokasi. Mungkin, itu pula yang dirasakan oleh salah seorang Pimpinan Ma’had Al-Qurro Li Tahfidzil Qur’an, Rian Yonada, kala memondokkan anaknya di pesantren tahfidz pimpinan Kiai Ma’sum tersebut.
“Saya harus mendirikan sebuah pesantren yang fokus untuk mencetak para hafidz dan hafidzah,” mungkin begitu gumaman Ustadz Rian Yonada dalam hati setelah mengantarkan putranya mondok di Al-Quds pada tahun 2018.
Cita-cita itupun mulai terwujud seiring berjalannya waktu. Pertemuannya dengan Ustadz Hafidh Kasirin pada 29 Januari 2018 semakin membuat Ustadz Rian semakin bersemangat untuk mendirikan pesantren tahfidz.
“Bak gayung bersambut, cita-cita itu pun mampu terealisasi setelah bertemu dengan Ustadz Muhammad Hafidh Kasirin yang datang ke Bandar Lampung pada 29 Januari 2019. Kala itu, kami bermusyawarah untuk merencanakan pendirian pondok dan menentukan lokasinya,” ungkap Ustadz Rian kepada Majalah Gontor.
“Alhamdulllah, dari musyawarah tersebut, Ma’had Al-Qurro Li Tahfidzil Qur’an berdiri di kota Bandar Lampung,” sambungnya.
Tepat satu tahun setelahnya, yaitu pada bulan Januari 2019, Ma’had Al-Qurro mulai menerima santri angkatan pertama. Saat itu jumlahnya 12 orang. Untuk sementara, santri ditempatkan di perumahan sambil menunggu pembangunan gedung utama selesai. Secara resmi, Ma’had Al-Qurro berdiri pada 6 Juli 2019.
Tidak main-main, yang meresmikan Ma’had Al-Qurro Pimpinan Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus, Jawa Tengah, Romo KH Muhammad Ulinnuha Arwani dan Romo KH Ulil Albab Arwani dan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang diwakili oleh Pengasuh Pondok Modern Darusalam Gontor Kampus 7 Kalianda, Lampung, Ustadz Hariyanto Abdul Jalal.
Selain terinspirasi dengan Al-Quds, Pimpinan Al-Qurro, Ustadz Muhammad Hafidh Kasirin mengatakan bahwa Ma’had Al-Muqoddasah Li Tahfidzil Qur’an, Ponorogo dan Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus juga menjadi inspirasi bagi lembaganya.
Ustadz Sirin, sapaan akrabnya, mengaku, pada awalnya, pendiri hendak mendirikan cabang Yanbu’ul Qur’an Kudus di Bandar Lampung. Namun, Pimpinan Yanbu’ul Qur’an Kudus, mendorong untuk mendirikan Ma’had Al-Qurro Li Tahfidzil Qur’an ketimbang mendirikan cabang Yanbu’ul Qur’an di Lampung.
“Ustadz Rian (Yonada) dan Ustadz Hafidh (Kasirin) silakan membuka sendiri pondok tahfidz saja. Toh Ustadz Hafidh juga berasal dari Yanbu’,” begitu kata Romo Kiai Ulinnuha Arwani kepada kedua pimpinan Ma’had Al-Qurro saat mengajukan pendirian pesantren Yanbu’ul Qur’an di Lampung.
Ma’had Al-Qurro berada di bawah naungan Yayasan Bani Ibrahim Saleh. Ma’had Al-Qurro berdiri di atas tanah wakaf seluas 6.500 meter persegi. Wakif yang mewakafkan lahan pendirian pesantren ialah H Usman Saleh.
Dari 6.500 meter luas lahan yang diwakafkan, sudah berdiri sejumlah sarana dan prasarana seperti mushala, asrama, ruang kelas, lapangan olahraga dan laboratorium. Selain menghafal Al-Qur’an, pimpinan Ma’had Al-Qurro juga melengkapi kegiatan ekstrakurikuler bagi santri seperti renang, memanah, berkuda, pramuka, latihan pidato, rebana, silat, olahraga, dan kesenian.
Ustadz Hafidz menjelaskan bahwa Ma’had Al-Qurro memiliki keunikan dibandingkan pesantren lain yang berada di Lampung. Ma’had Al-Qurro mengutamakan kegiatan tahfidzul Qur’an dengan menerapkan pembelajaran makharijul huruf dengan tajwid sebelum menghafal ayat-ayat Al-Qur’an.
“Karena kami memiliki motto: qalilun qarra khairun min katsirin farra. Atau sedikit tapi konsisten lebih baik daripada banyak namun terlepas,” jelas alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor 2006 tersebut.
Sejak saat itu, perkembangan Al-Qurro mengalami peningkatan yang signifikan. Bertambahnya jumlah santri menjadi acuan. “Alhamdulillah, pendidikan di Ma’had Al-Qurro mengalami peningkatan yang cukup siginifikan setiap tahunnya. Peningkatan ini ditandai dengan bertambahnya jumlah santri yang bergabung di Ma’had Al-Qurro dari tahun ke tahun,” papar Ustadz Sirin.
Ustadz Sirin mengakui terdapat perbedaan dalam sistem mengajar bagi santri tahfidz usia dini dengan santri yang sudah ‘aqil baligh. Menurut Ustadz Sirin, kesulitan yang dihadapi saat mengajar santri usia dini ada pada penerapan kefasihan serta makharijul huruf. Sementara bagi santri yang sudah baligh, materi makharijul huruf jauh lebih mudah untuk diajarkan.
Ma’had Al-Qurro tidak serta merta memberikan kesempatan bagi santrinya untuk langsung menghafal Al-Qur’an. Sebagaimana metode Yanbu’ul Qur’an yang mereka usung, makharijul huruf serta kefasihan dalam membaca Al-Qur’an menjadi kunci utama.
“Ma’had Al-Qurro memperbolehkan proses menghafal jika bacaan santri sudah bagus. Ma’had Al-Qurro menargetkan tahsin qiro’ah dan hafalan 3 juz pada tahun pertama,” ucap pria yang sempat menimba ilmu di Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus dalam rentang waktu 2011 hingga 2017.
Secara spesifik, ada perbedaan dalam mendidik tahfidz bagi lisan orang Sumatera. Menurutnya, lisan Sumatera berbeda dengan lisan Jawa. Karenanya, Ma’had Al-Qurro melakukan penyesuaian terhadap metode ajar guna mengakomodasi kesulitan tersebut. Kini, tenaga pengajar tahfidz di Ma’had Al-Qurro berjumlah 22 orang. Sementara jumlah santri mencapai 59 orang yang berasal dari Jawa dan Sumatera.
Bagi Ustadz Sirin, mendirikan pesantren tahfidz harus memiliki empat karakter, yaitu: Hidayah dari Allah SWT, hati nurani, keterpanggilan untuk mendirikan pesantren, serta kemauan yang kuat. Ustadz Sirin bahkan mendapatkan masukan berharga dari Ustadz Ma’sum Al-Quds.
“Membangun pondok tidak harus di daerah sendiri. Antum sudah memiliki lahan (di Bangka) tapi belum punya dana. Sementara di Lampung sudah ada pihak yang menyiapkan lahan sekaligus dengan dananya,” ungkap pesan Ustadz Ma’sum kepada sahabatnya saat mengabdi di Ma’had Muqaddasah Li Tahfidzil Qur’an pimpinan KH Hasan Abdullah Sahal.
“Beliau memiliki keinginan yang kuat untuk membangun pesantren di daerahnya. Maka kita harus membantu,” imbuh Ustadz Ma’sum kepada putra asal Bangka tersebut.
Terakhir, Ustadz Sirin berpesan kepada insan pendidikan di Indonesia untuk terus berlomba dalam kebaikan. Fastabiqul khairat. Bersungguh-sungguh dalam mendidik anak-anak yang sedang berjuang di mata Allah SWT.
“Untuk pendidik yang mendidik para penghafal Al-Qur’an, baik ustadz maupun ustadzah, semuanya bukanlah siapa-siapa melainkan pelayan Allah SWT,” tutupnya. [] Mohamad Deny Irawan




















