Ponorogo, Gontornews — Salah satu ajaran trimutri pendiri Pomdok Modern Darussalam Gontor adalah berfikir bebas dan jiwa bebas. Ajaran ini tertuang dalam panca jiwa pondok dan moto pondok Gontor.
Pimpinan Pondok Modern Gontor KH Hasan Abdullah Sahal mengingatkan kepada para alumni jangan seenaknya mengartikan kebebasan.
“Anak-anak Gontor berpayung dengan kata-kata kebebasan bukan kebebasan merampok, bukan kebebasan untuk masuk aliran yang neko-neko, bukan kebebasan untuk masuk madzhab-madzhab imam al-jaibi, imam kurangajariyin, bukan,” tegas salah satu pimpinan Gontor ini.
Kiai Hasan menegaskan, arti kebebasan harus tetap dalam bingkai an’amta alaihim, bingkai panca jiwa, bingkai pondok modern diatas dan untuk semua golongan yang dituturkan, diteladankan, dituliskan, dipidatokan dan diajarkan oleh trimurti pendiri pondok modern Gontor.
“Inilah (kebasanan yang dimaksudkan) Gontor. Maka semua alumni bertanggung jawab dalam amanatul ilmi, amanatul ulama sehingga bisa meletakkan pada proporsinya yang tepat dan membina dunia ini dengan penuh kedamaian. Aamiin,” ujar Kiai Hasan penuh berharap.
Jangan sampai, ujar Kiai Hasan, anak keturunan, santri dan alumni Gontor menjadi musfir (muslim tapi kafir), atau muntaber (munafik tapi berhasil).
“Inilah Gontor. Hari ini pakai qunut tidak ribut, besok ada imam datang tidak pakai qunut tidak ribut. Besok lusa lagi pakai qunut tidak ribut, yang ribut tangkap, PKI,” ujar Kiai Hasan yang menginginkan alumni Gontor tetap berprinsip diatas dan untuk semua Golongan.
Menurut Kiai Hasan, ajaran Islam di Gontor bukan Islam Qunutiyah. Yang memakai qunut siap jadi makmum, tidak pakai qunut siap jadi makmum. Tapi Insnya Allah anak Gontor hafal qunut semua tetapi pondok Gontor bukan qunut atau tidak pakai qunut.
“Pondok kita tahlil atau tidak, setiap hari tahlil terus. Yang jelas kita tetap pada siratal ladzina an’amta alaihim, wasyuhadai washolhin. Jangan sampai kita ikut ghoiril maghdubi alaihim waladzoolin,” pungkasnya.
Prinsip berpikiran bebas dalam moto gontor tidaklah berarti bebas sebebas-bebasnya (liberal). Kebebasan disini tidak boleh menghilangkan prinsip teristimewa sebagai Muslim Mukmin. Justru kebebasan disini merupakan lambang kematangan dan kedewasaan dari hasil pendidikan yang telah diterangi petunjuk ilahi (hidayatullah).
Motto ini ditanamkan sesudah santri memiliki budi tinggi atau budi luhur dan sesudah ia berpengetahuan luas. Sedangkan jiwa bebas dalam panca jiwa pondok adalam bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar, masyarakat.
Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan. [Ahmad Muhajir/DJ]






















