Kuala Lumpur, Gontornews — Malaysia telah menyerukan kepada negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk membantu mengakhiri penganiayaan terhadap minoritas Muslim Rohingya di Myanmar.
Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengatakan hal itu pada pembukaan pertemuan khusus para Menteri Luar Negeri OKI di Kuala Lumpur, Kamis (19/1).
Menurutnya, kekerasan terhadap Rohingya tidak lagi urusan intern Myanmar karena hal itu telah memicu eksodus pengungsi yang bisa mengguncang kawasan.
Dia mengatakan, krisis Rohingya harus diakhiri agar tidak memancing kelompok-kelompok bersenjata termasuk ISIS menyusup ke Rohingya.
“Negara-negara anggota OKI sangat menyadari bahwa organisasi teroris seperti ISIS bisa mengambil keuntungan dari situasi ini,” kata Najib seperti dikutip Aljazeera.
Pasukan keamanan Myanmar yang mayoritas beragama Budha dituduh telah bertindak kejam terhadap Rohingya, termasuk pembunuhan, perkosaan dan pembakaran ribuan rumah yang telah mendorong sekitar 65 ribu pengungsi eksodus melintasi perbatasan Bangladesh dalam tiga bulan terakhir.
Yang terbaru, tentara Myanmar mulai melakukan tindakan keras di negara bagian Rakhine pada bulan Oktober lalu setelah sembilan polisi tewas di sepanjang perbatasan dengan Bangladesh.
Namun pemerintah dan tentara Myanmar telah menolak tuduhan pelecehan. Mereka mengatakan telah melakukan operasi untuk membersihkan daerahnya dari kelompok bersenjata.
Najib mendesak Myanmar untuk menghentikan semua diskriminasi dan serangan serta memberikan akses untuk pengiriman bantuan kemanusiaan kepada Rohingya.
“Ini harus dilakukan sekarang. Pemerintah Myanmar telah membantah melakukan ‘genosida’ dan ‘pembersihan etnis, tapi apa pun terminologinya, Rohingya tidak bisa menunggu,” tandasnya.
Najib mengatakan, Malaysia akan menyumbangkan lagi 10 juta ringgit (US$ 2.250.000) untuk bantuan kemanusiaan dan proyek-proyek sosial di Rakhine, di mana sebagian besar Rohingya telah tinggal di wilayah itu selama beberapa generasi. [Rusdiono Mukri]





















