Kak Marbawi, demikian pria asal Pulau Bangka ini akrab disapa. Alumnus Pondok Modern Gontor tahun 1996 ini dilantik menjadi Wakil Ketua Kwarnas Bidang Perencanaan Pengembangan dan Kerjasama (Renbangma) pada tanggal 2 Juni 2014. Pelantikan ini cukup mengejutkan pria yang pernah maju sebagai Caleg DPR RI ini karena sejak tahun 1998 tidak pernah bersentuhan dan ikut kegiatan pramuka.
Γ’β¬ΕBidang saya saat ini Γ’β¬ΛBappenasnyaΓ’β¬β’ pramuka,Γ’β¬Β tutur pria yang pernah menjadi Pembina Pramuka di Gontor ini.
Pria yang hobi membaca ini mengakui, ada hal penting yang menjadi alasan dirinya harus ikut andil dalam gerakan pramuka di Indonesia. Salah satunya adalah adanya data bahwa generasi muda di Indonesia jumlanya sangat besar. Mereka ini mengalami bonus demografi yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia ke depan. Γ’β¬ΕArtinya secara ekonomi kondisi mereka cukup bagus,Γ’β¬Β tuturnya kepada gontornews.com saat ditemui di Gedung Kwarnas Jakarta, Senin (25/4) sore.
Lebih anjut, Marbawi mengatakan generasi baru ini adalah generasi internet yang selalu terkoneksi dengan seluruh informasi dan kejadian peristiwa di dunia. Dari sisi wawasan mereka cukup luas karena ada website, google dan perpustakaan digital.
Di saat yang sama mereka tidak merasa terkait dengan bangsa dan negara ini. Γ’β¬ΕMakanya jangan heran kalau ada yang melecehkan Pancasila karena tidak merasa ada sakralitas pada Pancasila dan NKRI,Γ’β¬Β paparnya.
Belum lagi jeratan narkoba yang menyasar anak-anak, remaja dan pemuda, serta gejala ekstremisme agama yang mudah sekali mengkafirkan orang lain, padahal pengetahuan agamanya masih sedikit.
Marbawi menilai, salah satu solusinya adalah gerakan pramuka. Γ’β¬ΕKalau tidak ada ruh misi itu, hanya sekedar mengurus organisasi saja buat apa,Γ’β¬Β papar mantan aktivis mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang pernah menjabat ketua HMI Cabang Depok ini.
Pria yang pernah menjadi pengurus Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Gontor ini menuturkan, untuk mewujudkan misi ini diperlukan sebuah transformasi dari pramuka lama menjadi pramuka baru. Perubahan ini dimulai dengan cara pendekatan melalui media sosial dengan langkah pertama menyesuaikan kemauan generasi muda. Sehingga kebijakan dua tahun pertama adalah kehadiran pramuka di udara, di darat dan di berbagai lini melalui media internet dan kegiatan lainnya.
Setelah pramuka bisa diterima, Kwarnas mengeluarkan Γ’β¬Εkebijakan pengaruhΓ’β¬Β, yaitu setiap ada kegiatan pramuka, generasi baru pramuka didorong melakukan kampanye positif dengan bingkai kepramukaan seperti gerakan antinarkoba dan gerakan cinta pramuka.
Di negara maju, pramuka lebih dikenal sebagai kegiatan yang unggul dan menjadi sebuah kebanggaan. Γ’β¬ΕPramuka ini prinsipnya kaderisasi bukan gerakan massa. Untuk menjadi scout harus bisa membantu dan menunjukkan jalan orang lain yang tidak tahu,Γ’β¬Β terangnya.
Inilah kerja besar membangun generasi bangsa. Pembangunan pramuka bukan semata-mata meningkatkan kegiatan kepramukaan dalam beberapa even tapi lebih jauh lagi, yaitu membangun generasi muda bangsa Indonesia melalui gerakan pramuka.
Banyak orang yang tidak tahu bahwa para pahlawan masa lalu juga menjadi aktivis kepanduan yang berkontribusi terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Γ’β¬ΕNilai-nilai kepanduan ini yang akan berkontribusi cukup besar pada kemerdekaan Indonesia saat ini,Γ’β¬Β paparnya.
Saat ini, jumlah anggota pramuka di seluruh Indonesia ada sekitar 20 juta. Banyak even tahunan yang diikuti pramuka Indonesia baik skala nasional maupun internasional seperti mengirim pramuka Indonesia ke Kenya, Gaza, Eropa, dan negara lainnya.
Di Indonesia, pramuka sering terlibat dalam kegiatan seperti pramuka peduli, penanggulangan bencana, gerakan antinarkoba, jambore nasional, dan kegiatan kepramukaan seperti persami, jejak alam, dan kegiatan di sekolah. Γ’β¬ΕGerakan pramuka Indonesia sudah diakui dunia dengan nama National Scout Organization (NSO),Γ’β¬Β tutur pria kelahiran Pulau Bangka, 10 Oktober 1976, ini. [Ahmad Muhajir/Rusdiono Mukri]





















