Maluku Tengah, Gontornews — Gempa yang bermagnitudo 6,1 di Maluku Tengah pada Rabu (16/6) lalu masih menyisakan rasa takut di hati masyarakat. Mereka lebih memilih tinggal dipengungsian walaupun tempatnya memprihatinkan. Tinggal di perkebunan yang ada di daratan yang lebih tinggi dengan tenda terpal dan alas tipis, sehingga udara dingin tak terelakkan tiap kali malam atau hujan datang.
Muhamad Samsyudin Mahu dari Tim Program ACT Maluku menginformasikan warga Kecamatan Tehoru 100 persen bermukim di wilayah pesisir. Pascagempa, 95 persen warga mengungsi ke wilayah yang lebih tinggi dengan membawa bekal terbatas. Hingga Kamis malam warga masih mengungsi lantaran gempa susulan masih terjadi.
βWarga yang paling terdampak gempa ada di tiga desa, Haya, Tehoru, dan Yaputih.Β Total warga yang mengungsi dari tiga desa sebanyak 22.832 jiwa dan tersebar di 29 titik yang merupakan dataran tinggi terdekat,β lapor Samsyudin, Jumat (18/6).
Sejak hari kejadian, tim relawan MRI-ACT bergegas menuju lokasi terdampak bencana. Asesmen awal serta distribusi bantuan yang paling mendesak dilakukan. Sahri Mewar dari tim Program ACT Maluku mengatakan, bantuan kemanusiaan lain akan menyusul untuk membantu pengungsi.
βRelawan MRI dan tim ACT saat ini sudah bersiaga di lokasi terdampak bencana, mereka siap membantu warga terdampak dan mendistribusikan bantuan kemanusiaan,β jelasnya dilansir dari laman ACTNews Ahad (20/6).
Hamdan Warga Desa Haya mengatakan belum kembali ke rumah selain karena rasa takut, juga tempat tinggalnya mengalami kerusakan.
βRumah rusak, jadi belum bisa kembali, masih ada gempa susulan juga. Kalau sudah merasa aman, katong baru kembali ke kampung,β ungkap Hamdan saat ditemui tim ACT di pengungsian Gunung Hahan, Desa Haya, Jumat (18/6/2021).
Saat ini Hamdan dan keluarganya masih bertahan di pengungsian. Mereka tinggal di dalam satu tenda yang diisi banyak keluarga, bahkan ada yang ditinggali oleh lebih dari 20 keluarga. Tenda yang digunakan pun tak sepenuhnya layak. Terpal yang menjadi bahan utama sudah banyak sobekan sehingga dengan mudah udara dingin atau hujan masuk ke dalam tenda. Belum lagi terbatasnya bahan pangan, sehingga pengungsi hanya bisa mengonsumsi makanan yang ada seperti mi instan. Selain itu, pelayanan kesehatan juga diperlukan, karena dikhawatirkan kondisi darurat bisa membuat pengungsi terserang penyakit, khususnya anak-anak.
Kini, tambah Hamdan, keperluan yang sangat mendesak ialah tenda yang lebih layak, selimut, tikar atau alas lain, serta bahan pangan. Semua itu mendesak dipenuhi karena warga belum tahu kapan akan kembali ke tempat tinggalnya karena masih khawatir bencana susulan yang lebih besar.
βAda ribuan warga yang mengungsi ke gunung-gunung untuk menyelamatkan diri karena ada isu akan datang tsunami, rumah-rumah juga rusak,β tambah Hamdan.





















