15
Tonton Selengkapnya
29 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Saturday, 6 June, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Laput

Melawan Lupa Kekejaman PKI Menahan Para Kiai

Oleh Edithya Miranti

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
10 December 2020
in Laput
1
Foto: Gatra.com

Kepulangan Muso dari Moskow melalui Belanda pada Agustus 1948 dinilai TB Simatupang sebagai indikasi awal pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) Madiun. Sejarah mencatat kebengisan PKI yang menculik dan membunuh para kiai yang dianggap musuh.

Amir Syarifuddin yang pada pertengahan 1947 sempat diangkat menjadi Perdana Menteri mewakili Pemerintah Indonesia dalam Perjanjian Renville, secara terang-terangan membuka kedok bahwa ia seorang komunis. Ia bekerjasama dengan Muso menggerakkan PKI untuk mengadakan kudeta dan memproklamasikan Negara Komunis Indonesia.

Sejak itu, Magetan, Ponorogo, Pacitan menjadi sasaran berikutnya. Pesantren menjadi musuh utama PKI karena dalam pesantren terdapat kekuatan yang sangat diperhitungkan. Yel-yel PKI ketika itu adalah: “Pondok bobrok, langgar bubar, santri mati”. Aksi kejam PKI memang berhasil melumpuhkan sejumlah pesantren di Magetan.

Para santri diintimidasi PKI untuk bergabung atau mati. Di antara pesantren yang telah diserang PKI yaitu Pesantren Takeran atau dikenal dengan Pesantren Sabilil Muttaqien, yang dipimpin oleh Kiai Imam Mursjid Muttaqien yang masih berumur 28 tahun, seorang imam Tarekat Syatariyah.

BACA JUGA

Guru Berperan Menanamkan Adab

Menjaga Fitrah dan Istiqamah Pasca-Ramadhan

Perintah Menjaga Lingkungan Hidup

Pendekatan Astronomis Penentuan Awal Ramadhan

Nyalakan Cahaya Literasi di Pesantren dengan Gerakan Menulis

Tepatnya pada tanggal 17 September 1948, seusai shalat Jumat, Kiai Imam Mursjid didatangi oleh para tokoh PKI. Mereka mengajak sang kiai untuk bermusyawarah mengenai Republik Soviet Indonesia. Hingga akhirnya, Kiai Mursjid pun dibawa pergi dan tidak ada kabar lagi.

Tak hanya itu, fakta lain menyebutkan bahwa kiai di Pondok Takeran Magetan telah dihabisi PKI, serta sekitar 168 orang tewas dikubur hidup-hidup. PKI memang terus melakukan penangkapan dan penculikan kepada para ustadz, seperti Ahmad Baidawy, Husein, Hartono, dan Hadi Addaba. Mereka tidak pernah kembali, bahkan sebagian besar ditemukan sudah menjadi mayat di lubang-lubang pembantaian yang tersebar di berbagai tempat di Magetan.

“Saya tahu tentang lubang-lubang yang disiapkan PKI kala itu,” terang KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Gontor, dalam Majelis Virtual Majalah Gontor (19/9).

Tak lama berselang, PKI bergeser ke Ponorogo dengan sasaran Pondok Gontor. Untungnya berita kedatangan PKI sempat bocor dan terdengar Kiai Gontor. KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi kemudian berdiskusi dengan santri senior, di antaranya Ghozali Anwar dan Shoiman, mencari jalan penyelamatan bagi para santri dan pondok dari keganasan PKI.

Dari musyawarah itu lalu ditetapkan bahwa melawan pemberontak merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Mereka pun akhirnya memutuskan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dengan cara mengungsi. Lalu direncanakan pengungsian ke Trenggalek menuju jalur utara melewati Gunung Bhayangkaki.

Namun belum sempat pengungsian dilakukan, salah seorang utusan pemberontak PKI sudah datang dengan menyampaikan sepucuk surat ancaman ke Pondok Gontor. Isinya agar segenap penghuni pondok menyerah dan tidak meninggalkan pondok. Jika perintah itu dilanggar, maka akan terjadi bencana besar menimpa penduduk pondok.

Mulanya KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi sempat mempertimbangkan isi surat itu, sampai sekitar pukul 01.00 atau 02.00 dini hari, Lurah Gontor KH Rahmat Soekarto, kakak tertua Trimurti Pendiri Gontor, memanggil mereka ke pendopo. Ia lalu meminta kedua adiknya untuk mengungsi dan membiarkan Pondok Gontor di bawah pengawasannya.

Mendengar pesan kakak tertua, keesokan harinya kedua kiai beserta santri lantas mengungsi secara diam-diam ke Trenggalek. Selama mereka melewati Gunung Sooko sampai masuk ke Desa Ngadirejo suasana terlihat aman terkendali. Namun ketika mereka mulai memasuki Dukuh Gurik, suasana yang tidak diinginkan pun terjadi.

Tiba-tiba rombongan dikejutkan dengan suara kentongan dan kepanikan santri yang berada di barisan depan. Dugaan mereka tidak salah, para gerombolan warok Ponorogo bersenjata golok, tombak, bambu runcing, dan sabit itu tiada lain adalah anggota PKI. Dengan nada kasar mereka pun menginterogasi rombongan Gontor tersebut.

Hingga akhirnya rombongan kiai dan santri ini digiring antek PKI ke kamar tahanan di Dukuh Buyut, Desa Ngadirejo selama semalam. Esok harinya mereka dipindah ke Dukuh Ploso dan keesokan harinya lagi mereka dipindah kembali ke Kecamatan Sooko. Mereka pun ditahan selama dua hari di Sooko, kemudian dipulangkan kembali ke Ponorogo.

Selama ditahan, pakaian mereka dilucuti, tinggal pakaian dalam saja yang tersisa. Mereka semakin khawatir, hingga terjadilah perdebatan antara KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi tentang siapa yang harus mati, jika terpaksa situasi menghendaki pengakuan salah satu di antara mereka sebagai kiai Gontor karena PKI belum tahu sosok kiai Gontor.

Saat ada ancaman senjata dan pedang terhunus, mereka pun siap berkorban nyawa demi yang lain. Kiai Sahal mengatakan, “Biar aku saja yang mati. Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak. Pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya saja yang menghadapi PKI itu. Ayo Pak Zar, mencoba badan walau sampai mati.”

Kemudian rombongan Gontor itu dibawa ke belakang Masjid Muhammadiyah Ponorogo (depan Toko Buku La Tansa sekarang). Mereka pun ditaruh di dalam satu ruangan kecil dan di luar sana bom siap diledakkan. Ibaratnya, tinggal beberapa waktu menunggu komando perintah ‘serang’ saja, maka mereka pasti sudah tewas terbunuh.

Untung saat itu reaksi Pemerintah Indonesia sangat cepat dan tepat. Tanggal 22 September 1948 Kabinet Hatta sudah memerintahkan TNI di bawah komando Jenderal Gatot Soebroto untuk menumpas habis PKI dari Solo. Hingga hari demi hari perlawanan terhadap PKI terus berjalan dengan sangat dramatis.

Di Madiun, kaum pemberontak tak bisa melawan. Bahkan belum sempat memberi perlawanan, mereka sudah lari kocar-kacir tak karuan. Di Ponorogo di bawah pimpinan Abdul Choliq Hasyim, putra KH Aang Asy’ari, tentara berhasil meluluhlantakkan pemberontak dan menyelamatkan para tahanan PKI.

Dalam waktu kurang dari sepekan, seluruh aksi PKI di Madiun dan sekitarnya sudah dapat dikalahkan. Muso ditembak mati dan Amir Syarifuddin ditangkap lalu dijatuhi hukuman mati.

Lalu bagaimana keadaan Pondok Gontor? Sehari setelah kiai dan santri mengungsi, PKI betul-betul datang. Mereka hendak membunuh semua penghuni pondok dan menggeledah seluruh isi pondok. PKI mengerahkan serangan tembakan dan bergerombol memasuki pondok dari berbagai arah mata angin. Jumlah mereka sekitar 400 orang.

Setelah mendatangi dan mencerca KH Rahmat Soekarto, pimpinan PKI lantas langsung memasuki pondok dan merusak semua fasilitas, termasuk barang-barang berharga santri. “PKI membakar semua buku berbau Arab dan kitab suci al-Qur’an. Selain itu beberapa asrama juga dibakar,” terang Prof Dr Amal Fathullah Zarkasyi MA, putra Kiai Imam Zarkasyi.

Atas dasar sejarah kelam itu, Gontor sangat setuju untuk memutar film Pengkhianatan G30S/PKI setiap tahun. Tujuannya agar semua generasi muda mengetahui kejahatan PKI. PKI adalah musuh nyata umat Islam. Kiai Hasan menegaskan, “Kudeta-kudeta PKI meski tidak lama namun menimbulkan pemikiran yang merusak hingga sekarang.”

Anak bangsa penting mengerti bahaya laten komunisme. Politik dan kemenangan politik tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab yang menyelesaikan masalah itu adalah misi kehidupan. Karena itu berhati-hatilah. “Pemurtadan yang dilakukan PKI akan terus digencarkan, maka sejarah ini sangat mahal sekali,” pungkas Kiai Hasan. []

 

Tags: GontorPKI
Share119Tweet75Send
Previous Post

Organisasi Wartawan Internasional Desak PBB Selidiki Pembunuhan Jurnalis oleh Israel

Next Post

Penguburan Masal Carpelai di Denmark Merusak Lingkungan

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Comments 1

  1. Sugi Kawulo Alit says:
    5 years ago

    Tak dapat dipungkiri jika sejarah memang perlu dipahami secara utuh dan berkesinambungan.
    Sebab pemahaman sejarah yang hanya dengan membaca potongan-potongan fragmen, sementara sebagian fragmen telah dipenggal dan ditutup-tutupi, akan melahirkan pemahaman yang menyimpang.
    Dan kini seolah PKI hanya dianggap membuat manuver pada tahun 1965.
    Padahal sejarah telah mencatat jika pemberontakan 1948  yang dilakukan oleh gerombolan PKI beserta Pesindo dan organ kiri lainnya telah menelan ribuan korban jiwa baik dari kalangan santri, para ulama, pemimpin tarekat, yang dibantai oleh gerombolan PKI secara keji. 🤔

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

4 June 2026
Filosofi Takbir, Tahlil, dan Tahmid dalam Idul Adha: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

Filosofi Takbir, Tahlil, dan Tahmid dalam Idul Adha: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

30 May 2026
Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

31 May 2026
Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

30 August 2021
Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

4 June 2026
Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

0
Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

0
Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

0
Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

0
Universitas Islam Bogor Jalin Kerjasama dengan UNIDA Gontor

Universitas Islam Bogor Jalin Kerjasama dengan UNIDA Gontor

0
Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

5 June 2026
Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

5 June 2026
BCA Syariah Salurkan Zakat Nasabah kepada BAZNAS dan Hadirkan Fitur ZIS di BSya

BCA Syariah Salurkan Zakat Nasabah kepada BAZNAS dan Hadirkan Fitur ZIS di BSya

5 June 2026
Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

4 June 2026
BAZNAS Evakuasi dan Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kemayoran

BAZNAS Evakuasi dan Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kemayoran

4 June 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alur Pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Pondok Modern Darussalam GontorSource: gontortv
https://youtu.be/cUA3pvD43i8Video ini menjelaskan alur pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor secara lengkap dan sistematis.Informasi lengkap terkait pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dapat diakses melalui:
https://gontor.ac.id/persiapanPendaftaran online dilakukan melalui halaman resmi:
https://capel.gontor.ac.id
  • Kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor ke Pondok Pesantren Modern Darel Azhar RangkasbitungIntip momen seru kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor saat berkeliling melihat fasilitas, unit ekonomi, hingga suasana belajar di Pondok Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung.#DarelAzhar #MajalahGontor #KunjunganMahabbah #PondokModern #Rangkasbitung #SantriIndonesia #UkhuwahIslamiyah #DuniaPesantren #Gontor #LiterasiSantri
#majalahgontor
#gontornews
  • Tujuan dari sains Islam adalah meletakkan kembali jejak Tuhan di dalam kausalitas alam, agar manusia tidak arogan dan menganggap alam bekerja tanpa pencipta.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasionline
#belajarbaik
#hidupislami
#kehidupanislam
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
#ilmupengetahuan
  • Membaca Al-Qur
  • Kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan
  • Nasehat dalam memimpin suatu lembaga:
(Yang sulit dan menjadi tantangan dalam memimpin lembaga itu adalah:)
1. Noto Atine Dewe
2. Noto Atine Wong Liyo
3. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo
4. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo Sing Tukaran.KH Hasan Abdullah Sahal#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
  • Beriman itu tandanya jujur. Beriman itu tandanya bersaudara. Iman seseorang bisa diukur dari perilakunyaProf. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
  • KAJIAN PARENTING EKSKLUSIF & VIRTUAL TOUR ARABIC GLOBAL SCHOOL JAKARTA.Menyiapkan Generasi Cerdas: Menyeimbangkan Adab Islami & Kompetensi Global di Era DigitalBersama Narasumber dari Arabic Global School (AGS):
1.​Dedek Febrian (Pembimbing Akademik AGS)
2.​Ramdhanil (Kepala Sekolah Kindergarten AGS)
3.​Adi Suroto (Kepala Sekolah Primary AGS)Moderator :
Devi Lusianawati
Reporter Majalah Gontor dan Gontornews.com🗓 Rabu, 22 April 2026
⏰ 13.00 – 15.30 WIB​👇 KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENDAFTAR:
👉 https://bit.ly/pendaftaran-kajian-online#bedahbuku #parentingislami #muslimmilenial #gontornews #majalahgontor #gontor #kajianonline #kajianislam #psikologianak #polaasuh #bukuislami #livezoom #webinarislami #pendidikananak #belajarparenting #polaasuhanak #generasimilenial #islammodern #kajianjakarta
  • Mestinya orang Islam itu hanya dengan menjalankan shalat, jiwanya itu bersih. Shalat itu harus ada hubungannya dengan perilaku.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result