Bekasi, Gontornews — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak para alumni Haramain atau para pelajar dan mahasiswa yang pernah belajar di Mekkah dan Madinah yang tersebar banyak di Tanah Air untuk terus menebarkan ilmu-ilmu agama, sehingga kehidupan di Tanah Air tetap bisa dijaga, pelihara, dan dirawat sebaik-baiknya.
Menag menyampaikan, hubungan Indonesia dengan bangsa Arab adalah hubungan yang luar biasa, nyaris tidak ada hubungan dua negara yang begitu spesial seperti Indonesia dan Saudi Arabia. Kekhususan atau keistimewaan hubungan dua negara ini utamanya karena dijalin oleh para ulama bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada abad 14-15 banyak ulama Indonesia berguru ke Tanah Suci. Seluruh pendiri ormas Islam Indonesia berguru ke para masyayekh di Tanah Suci, seluruhnya bisa dirunut kepada siapa mereka menimba ilmu.
“Pendiri Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Al-Wasliyah, Al-Irsyad dan lainnya, para pendirinya berguru kepada para masyayekh di Tanah Suci, dan inilah yang kemudian menjadi fondasi hubungan kedua negara. Penyelenggaraan haji kita dari waktu ke waktu semakin membaik, karena hubungan, fasilitasi, dan bantuan pemerintah Saudi Arabia,” kata Menag saat menghadiri Haul Masyayekh Haramain Majelis Khirriijil Alharamain di Bekasi, Kamis (27/7) malam.
“Sebagai tahadduts binni’mah (menyampaikan sebuah anugerah atau nikmat), Indonesia satu-satunya negara yang mendapatkan tambahan kuota jamaah haji, dan tambahan tersebut langsung dari Raja Salman. Dan ini sekaligus meneguhkan betapa di mata Pemerintah Saudi Arabia, Indonesia dipandang sebagai bangsa dan negara yang memiliki perhatian sendiri sebagaimana kita bangsa Indonesia memandang Pemerintah Saudi Arabia, ulama dan masyarakatnya sebagai bangsa dan negara atau sahabat sejak dahulu kala,” ujar Menag menambahkan.
Menag juga menyampaikan, banyak kosakata bahasa Indonesia, itu juga berasal dari bahasa Arab. Ini menunjukkan betapa istimewanya hubungan kedua bangsa ini.
“Oleh karenanya, saya sangat bersyukur dapat menghadiri majelis yang luar biasa, majelis para alumni yang mengenyam pendidikan di Tanah Suci. Mudah-mudahan melalui haul ini nilai-nilai Islam tetap lestari di persada Nusantara ini,” harap Menag dilansir kemenag.go.id.
Kita semua bangsa Indonesia, kata Menag, akan sangat berharap dengan keberadaan para ulama yang sempat mengenyam pendidikan di Tanah Suci. Karena merekalah yang mendalami ilmu-ilmu agama secara benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Menurut Menag, tidak ada proses transformasi keilmuan seperti tradisi Islam yang selama ini dikembangkan, setiap ilmu yang diajarkan seorang guru pada muridnya, itu bisa dipertanggungjawabkan silsilahnya dari mana.
“Karena ada proses ijazah, seorang guru bertanggung jawab menurunkan ilmunya pada murid-muridnya dengan menyebutkan dari mana ia mendapatkan ilmunya. Ini sesuatu yang boleh jadi tidak kita temukan di tempat lain dalam proses transformasi ilmu ini. Ini adalah tradisi yang harus dijaga dan dipelihara,” kata Menag. [Fathurroji]





















