Setiap anak yang berprestasi di sekolah biasanya akan menjadi kebanggaan orangtua. Namun, prestasi tidak terbatas pada nilai akademik saja karena masih ada kategori prestasi anak di bidang lainnya yang perlu diketahui orangtua.
Setiap anak memiliki hasil belajar atau prestasi yang berbeda antara satu dengan yang lain. Dalam satu kegiatan yang sama, pasti akan memiliki potensi dan prestasi yang berbeda. Meski memiliki potensi yang sama, tetapi dalam hal kemampuan pendalaman dan pencapaian dapat saja berbeda.
Seorang anak yang multitalenta, pasti memiliki banyak prestasi. Jika semua diseriusi, pasti hasilnya akan memuaskan. “Jika anak memiliki potensi yang menonjol dalam suatu kecerdasan, kemungkinan besar ia akan mencapai prestasi yang tinggi dalam bidang tersebut,” ujar Dr Helmawati, doktor lulusan Universitas Ibnu Khaldun, Bogor.
Namun, semua prestasi di atas lagi-lagi bergantung pada usaha (kesungguhan) dan doa. Karena biar bagaimanapun, usaha saja tidaklah cukup. Diperlukan doa yang kuat agar Allah SWT mengizinkan kesuksesannya. Karena itu, peran orangtua sangat diperlukan untuk selalu mengingatkan dan memotivasi anak.
Berbicara tentang prestasi, ternyata masih banyak orangtua yang menganggap bahwa prestasi adalah angka-angka yang diperoleh di sekolah saja. Standar prestasi anak seolah terbatas dari hasil nilai ujiannya selama duduk di bangku sekolah. Jika anak mendapat nilai kurang memuaskan, banyak orangtua yang memarahi anaknya.
Ini menunjukkan bahwa masih banyak orangtua yang melihat prestasi dari sisi kognitif saja. “Padahal masih ada ranah lain yang tidak kalah penting, yaitu afektif (sikap/rasa/perilaku/akhlak) dan ranah psikomotorik (keterampilan),” tulis Helmawati dalam bukunya, Pendidikan Keluarga.
Proses pembelajaran itu jauh lebih penting daripada hasil. Jika anak mendapat nilai ujian kurang memuaskan, tetapi hasil dari kejujuran dan kerja kerasnya sendiri, itu perlu diapresiasi. Itulah prestasi dia dalam ranah afektif. Sebaliknya, jika ada anak memperoleh ujian tinggi tapi dengan menyontek, maka orangtua harus berani tegas mengingatkan.
Orangtua juga harus mau mengevaluasi kembali proses pembelajaran dan penanaman nilai-nilai kebaikan kepada anak selama ini. Namun sayang, hingga sekarang banyak orangtua lebih mengutamakan dan menjejali anak pada ranah kognitif. Mereka mungkin berprestasi di bidangnya, tetapi kurang memiliki pengendalian diri.
Dalam pandangan yang lebih luas, prestasi juga dapat dikatakan sebagai perubahan akibat belajar. Terlepas dari angka yang diperoleh, ketika anak belajar sesuatu dari tidak bisa menjadi bisa, maka ia dapat dikatakan berprestasi. Seperti anak yang tadinya jarang beribadah, kemudian rajin beribadah. Perubahan itulah prestasinya. [Edithya Miranti]
Trik Meningkatkan Prestasi Belajar Anak:
- Menyediakan fasilitas belajar. Guna memudahkan belajarnya, orangtua harus mengerti hal-hal apa saja yang sangat diperlukan dalam proses belajar anak.
- Mengajak anak bermimpi tinggi. Pendidik harus menerangkan akan cita-cita anak dan langkah untuk menggapainya.
- Belajar dan evaluasi pembelajaran di rumah. Kontrol terus proses belajar anak dan evaluasi kembali hasil belajarnya.
- Ajarkan sikap optimisme dan kerja keras.
- Ajarkan sikap tawakal dan ikhlas atas hasil usaha yang sudah dilakukannya.
- Ajak anak untuk terus berdoa dan menjaga akhlak mulia.





















