Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz dalam keseharian ada kalanya kami dilanda rasa malas. Termasuk malas untuk beribadah yang benar. Bagaimana caranya kita dapat mengatasi rasa malas dalam beribadah?
Jawaban:
Wa’alaikumussalamWarahmatullahi Wabarakatuh.
Rasa malas beribadah itu bisa muncul karena beberapa alasan. Pertama, mungkin fitrah kita tergangguoleh penyakit hati. Allah sudah memberi fitrah kepada kita semua bahwa antara “sholah†dan “fasad†itu sudah terdapat didalam hati kita, Hati dan fitrah yang sehat, mampu mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sholah dan mana yang fasad. Hati yang lurus akan berat dan tidak enak  mengerjakan keburukan atau kesalahan.
Kedua, rasa malas bisa muncul karena kurang menghayati makna ibadah. Tidak memahami apa arti iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in. Juga arti ihdina asshirata almustaqim. Artinya iman kita belumlah sempurna.‘Alamatul iman hiya al a’malu ashaalihah, artinya tanda-tanda imannya seseorang itu mengerjakan perbuatan baik. Maka,  supaya kita tidak malas beribadah, usahakan untuk mengerti dan memahami makna dan esensi ibadah. Kita harus belajar bagaimanaibadah yang baik dan benar. Kalau sholat sudah baik dan benar, janji Allah inna assholaata tanha ‘ani alfahsyaiwal munkar. Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Kita harus selalu melatih diri untuk meningkatkan kualitas ibadah kita. Kita harus melakukannya dengan istiqomah. Dengan begitu, InsyaAllah, sedikit demi sedikit ibadah kita akan baik.
Sebenarnya, Allah telah menciptakan manusia selalu diiringi dengan dua malaikat yang selalu mengingatkan kita.Sebagai contoh,seseorang yang berhati salim tatkala ingin mengerjakan sholat tahajjud, maka denyut hatinya akan didengarkan malaikat,dan pasti akan dibangunkan.Akan tetapi harus diingat bahwasannya iblis akan selalu menggodadan meniup supaya ia tidak bangun.
Jikalau kita mengikuti ilham atupun bisikan baik maka kita akan baik sendri. Suatu contoh ketika adzan berkumandang bersamaan dengan itu ada pertandingan bola di TV, kita pasti mengetahui bahwasannya ini adalah waktunya sholat.Tetapi karena terlena dengan bujukan syaitan, terkadang kita menunda sholat demi bisa melihat sepak bola tersebut.Hal seperti inilah yang harus kita lawan.Bahkan sekarang kita dikalahkan dengan teknologi. Kemajuan teknologi sebenarnya mendukung kita untuk mencari ilmu, akan tetapi kebanyakan orang salah dalam memanfaatkannya, lebih kepada hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Dengan keadaan seperti ini terkadang kita dipermainkan dengan teknologi.
Jadi,kembali kepada fitrah akan membawa kita selamat. Kalau tidak, kita akan dikalahkan hawa nafsu yang mengajak kepada kesenangan dunia. Harus diingat bahwa janji Allah syurga itu jauh diatas dan tidak bisa dibandingkan dengan amal perbuatan kita. Kita harus menyadari bahwa  amal kita tidak serta merta bisa memasukkan kita kesyurga. Rahmat Allah-lah yang akan mengangkat kita ke Syurga-Nya. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits: Dari ‘Aisyah RA berkata, dari Nabi SAW: “Beramallah sesuai sunnah dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk syurga karena amalannya. “Para sahabat bertanya,â€Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?â€Beliau bersabda, “Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.†(HR Bukhari)
Amal kita itu tidak seimbang dengan yang kita minta, kalau kita sadar kesitu, kita akan tahu bahwasannya kita itu kecil, penghambaan kita kurang, ibadah kita kurang, dan masih banyak permasalahan dan kekurangan dunia yang belum terselesaikan dan sebagainya. Karena itulah kita berharap ridha Allah. Maka, kembali kepada hati kita masing-masing, bagaimana usaha kita supaya sholat kita mabrur, bagaimana supaya mengajar kita mabrur, sholat kita mabrur, muamalah jual beli kita mabrur, haji kita mabrur, mabrur disini maksudnya adalah tanpa cacat. Maka dari itu semuanya kembali ke hati. Sebagaimana Rasulullah bersabda: “ Ketahuilah, sesungguhnya didalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, (maka) baiklah seluruh tubuhnya.Dan apabila segumpal daging tersebut buruk, (maka) buruklah seluruh tubuhnya.Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.†(HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, tentang kebaikan dan kejelekan itu semua kembali ke hati. Hanya saja tugas kita adalah untuk mempelajari bukti-bukti  kebenaran itu sendiri dari alquran dan hadits. Karena dari dalil-dalil yang sudah ada itu tidak ada pertentangan sedikitpun. Contohnya apabila suatu amal itu baik, dan itu berasal dari hati nurani,maka  dalil-dalil yang ada itulah yang membuktikan dan menguatkan suatu amal tersebut.
Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surah al-Ahzab ayat 41: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.†Dan disurat adz-Dzariyat ayat 56 Allah berfirman: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku atau beribadah kepada-Ku,†Dzikir kepada Allah adalah ibadah, maka semua amalan kita harus bernilai ibadah. Saat berbicara, makan, minum, melihat dan lain sebagainya ini semua harus benilai ibadah. Agar bernilai ibadah. Rasulullah memgajarkan kepada kita agar berdoa sebelum makan, minum, masuk ke kamar mandi dan aktifitas sehari-hari lainnya agar semua pekerjaan kita dapat memperoleh pahala dan bernilai ibadah.Kesemua ini tentunya kembali kepada niat individu masing-masing. [Al-Ustadz Syarif Abadi, Guru Senior KMI Pondok Modern Darussalam Gontor]






















