Jakarta, Gontornews — Di sudut-sudut kota besar, hari raya Idul Adha selalu datang dengan gegap gempita. Ada tawa yang berderai di pelataran masjid, ada antrean panjang panitia yang sibuk menimbang ratusan kilogram daging, dan di malam harinya, udara akan dipenuhi aroma harum kepulan asap satai dari halaman-halaman rumah. Di kota, daging qurban seringkali melimpah ruah, bahkan hingga memenuhi kulkas berpekan-pekan lamanya.
“Namun sebelum itu, mari kita sejenak memalingkan wajah ke arah yang berbeda. Mari kita pejamkan mata dan bayangkan sebuah dusun terpencil di ujung negeri, di mana akses jalanan masih berupa tanah merah yang licin saat hujan. Atau, sebuah tenda pengungsian darurat yang pengap, tempat di mana anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki. Boro-boro memikirkan satai atau rendang yang enak, mereka merasakan kaldu daging saja sudah sebuah kemewahan rasa yang mungkin hanya datang setahun sekali bahkan tidak sama sekali,” ujar Emyr Muhammad dari Laznas Darunnajah Jakarta.
Faktanya, tingkat konsumsi daging masyarakat Indonesia rata-rata baru mencapai angka 2,6 kilogram per kapita dalam satu tahun. Angka ini tertinggal jauh dari negara-negara tetangga. Namun, kesenjangan ini bukan sekadar deretan angka statistik di atas kertas. Kesenjangan ini tentang masa depan yang terancam.
Minimnya asupan protein hewani telah menjadi salah satu pemicu utama tingginya angka stunting pada anak-anak di pelosok negeri. Bayangkan anak-anak cerdas dengan mata berbinar di desa-desa terpencil itu potensi mereka untuk tumbuh tinggi, cerdas, dan menjadi generasi penerus bangsa harus terhambat hanya karena piring-piring mereka jarang tersentuh lauk yang bergizi.
“Jika kita percaya bahwa anak-anak ini adalah pilar untuk membangun Indonesia Emas 2045, maka menyelamatkan gizi mereka hari ini merupakan sebuah kewajiban, bukan lagi sekadar pilihan,” papar Emyr.
Dalam Islam, ibadah kurban adalah manifestasi dari ketaatan mutlak (Hablum Minallah) sekaligus bentuk tertinggi dari kepedulian sosial (Hablum Minannas). “Ibadah ini mengajarkan kita untuk melepaskan apa yang kita cintai demi berbagi dengan sesama. Namun, makna berbagi ini akan menjadi jauh lebih dahsyat ketika ia disalurkan ke tempat yang paling kering dan paling membutuhkan,” lanjutnya.
Berangkat dari kegelisahan nurani inilah, Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Darunnajah menghadirkan program “Qurban di Desa Tertinggal”. “Kami menolak membiarkan keberkahan kurban hanya berputar dan menumpuk di wilayah yang sudah surplus daging. Kami memilih jalan yang lebih sunyi, lebih menantang, namun in syaa Allah lebih bermakna: membawa amanah Anda menembus batas kota, menyapa mereka yang bermukim di pedalaman,” kata Emyr.
Pendekatan yang dilakukan Laznas Darunnajah bukan sekadar pengiriman daging secara instan. Mereka mengusung konsep pemberdayaan berkelanjutan. Hewan-hewan kurban yang disembelih tidak didatangkan dari kota, melainkan dibeli langsung dari tangan-tangan kasar para peternak kecil di desa-desa binaan tersebut.
Menurut Emyr, ada dua nafas kehidupan yang diselamatkan dari strategi ini. Pertama, Intervensi Gizi: anak-anak yatim, dhuafa, dan keluarga prasejahtera di pelosok akhirnya bisa menikmati protein hewani berkualitas. Ini “Energi Masa Depan” bagi mereka.
Kedua, Pemberdayaan Ekonomi: uang yang Anda niatkan untuk berkurban, secara langsung memutar roda ekonomi peternak desa. Tetesan peluh peternak lokal terbayar lunas, dan mereka pun bisa tersenyum di hari raya, membelikan baju baru untuk anak-anaknya, atau menyisihkan modal untuk beternak kembali.
Sebuah Undangan Keberkahan Tahun ini Laznas Darunnajah mengajak seluruh alumni, wali santri, dan kaum Muslimin di mana pun berada, untuk ikut mengukir senyum di wajah-wajah lugu anak-anak di daerah 3T (Tertinggal, Terdampak, dan Terluar). Dengan dukungan integritas dan jaringan Pesantren Darunnajah yang tersebar di berbagai pelosok, mereka memastikan setiap hewan kurban sampai kepada a yang benar-benar berhak mendapatkannya.
“Mari kita ubah ketimpangan menjadi keadilan. Mari kita ubah rasa lapar menjadi syukur yang menggetarkan langit. Karena sebaik apa pun perayaan kurban di kota, Idul Adha kita tidak akan pernah sempurna selama masih ada tangisan saudara kita di ujung desa yang tak bisa merayakannya,” ujar Emyr.
Laznas Darunnajah memfasilitasi niat baik para pekurban dengan berbagai pilihan yang mudah dan transparan:
- Kurban Kambing Terbaik: Rp2.500.000
- Kurban Sapi Kolektif (1/7 bagian): Rp3.300.000 (Solusi kebersamaan untuk manfaat yang lebih besar)
- Kurban Sapi Utuh: Rp22.500.000.
Laznas Darunnajah juga menyediakan program “Tabungan Qurban” mulai dari Rp1.166.667, sebuah ikhtiar pelan tapi pasti untuk merawat niat baik pekurban dari sekarang.
“Hanya dengan beberapa langkah mudah dari layar gawai Anda, sepotong kebahagiaan siap dikirimkan ke ujung negeri. Salurkan niat tulus Anda melalui platform resmi kami di bantuanku.org atau hubungi amil kami di layanan resmi Laznas Darunnajah (+62 815-4234-0061).” []




















