pesanan-majalah-edisi-khusus
32 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Saturday, 12 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Saintek Lingkungan

Mengubah Paradoks Ekologis, Demi Masa Depan Lebih Baik

Oleh Dedi Junaedi, Wartawan dan Dosen INAIS Bogor

Dedi Junaedi by Dedi Junaedi
25 March 2018
in Lingkungan
0
Mengubah Paradoks Ekologis,  Demi Masa Depan Lebih Baik

 

Ketika sumberdaya yang kian menipis,  perubahan iklim global kian ekstrim menekan. Paradoks ekologis pun menjadi trend di mana-mana. Bagaimana manusia harus bersikap dan bersiap agar masa depan bisa lebik baik dan sehat?

Orang-orang yang tinggal di negara maju, dalam beberapa hal, dapat dikatakan memang seperti lebih sehat dari sebelumnya. Namun planet ini secara keseluruhan sedang mendapat cekaman dan kerusakan  lingkungan yang hebat, bahkan dapat mengancam  sejarah perdababan manusia lainnya. Ada trend, sebagian manusia mengorbankan kesehatan generasi masa depan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi sekarang. Jika paradok ini dibiarkan, cepat atau lambat, dapat mengancam kesejahteraan semua warga  Bumi.

“Kita mungkin hidup lebih lama, tapi kita melakukannya dengan cara yang akan merampas kesehatan, kesejahteraan dan umur panjang anak-anak kita,” kata Gina McCarthy, yang menjabat sebagai Direktur  Environmental Protection Agency (EPA) era Pemerintahan Obama. “Kita perlu melihat bagaimana campur tangan manusia dalam mempengaruhi sistem alamiah Bumi. Bagaimana manusia mengubahnya. Kita juga harus menemukan solusi yang berbeda, bukan solusi tradisional,” ungkapnya.

BACA JUGA

Fenomena El Nino Berlanjut Hingga Februari 2027

Kemendagri: BAZNAS Berperan Strategis dalam Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat

Pentingnya Pengelolaan Limbah untuk Kelestarian Lingkungan

WMO: Perubahan Iklim ‘Sah’ Ancam Kehidupan Manusia

Copernicus Catatkan Rekor Suhu Permukaan Laut Global

Fenomena tersebut, menurut  Susanne Sokolow, seorang ilmuwan peneliti senior di Stanford Woods Institute for the Environment, membawa konsekuensi bahwa masyarakat global harus mulai lebih fokus pada kesehatan generasi yang akan datang, sebuah proses yang memerlukan “perubahan pola pikir yang mengubah permainan dan gaya hidup.”

Dia menambahkan, bioteknologi mungkin berhasil menghasilkan produk obat-obatan mutakhir, membantu memberikan diagnostik dan perawatan seumur hidup bagi sekelompok orang kaya. Sejumlah fasilitas teknologi kesehatan baru,  obat baru, antibiotik baru, dan diagnosa baru membawa harapan. Tapi, itu semua bukan solusi  mujarab dan  mudah diakses bagia sebagian besar orang tak berkecukupan. Bagaimana fasilitas modern bisa diakses kaum papa, termasuk mereka yang kehilangan  penghidupan di tengah ekosistem yang kian buruk? ”

Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran ini telah menyebabkan munculnya bidang-bidang kajian tentang pembangunan dan kesehatan planet,  sebuah disiplin yang telah mendorong upaya global untuk mengubah apa yang sebelumnya menjadi keingintahuan akademis dan menjadi sorotan serius dari komunitas pemerhati  masalah penyakit dan kesehatan  lingkungan di seluruh dunia.

“Dulu, paradok itu mungkin hanya bahan gurauan  untuk orang polos seperti saya,” kata Samuel Myers, ilmuwan riset senior di Departemen Kesehatan Lingkungan di Harvard T. H. Chan School of Public Health. Tapi, sekarang kita tahu bahwa masalah ekologi terhubung dengan segalanya. Apa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir telah membuktikan, perbuatan dan aktivitas manusia berdampak terhadap semua sistem alam planet kita, melalui perubahan iklim, perubahan tutupan lahan, perikanan, sistem air tawar, polusi, kualitas udara dan air. ‘’Semuanya bertransformasi membawa perubahan sangat besar. Telah mengancam kesehatan global dengan cara yang tidak lagi hanya menarik, tapi sangat gawat darurat,” ungkapnya.

Kekhawatiran terbesar adalah bagaimana menjaga persediaan makanan dunia akibat tekanan perubahan iklim, degradasi lahan, kelangkaan air dan hilangnya penyerbuk alami, kata Myers. “Kita benar-benar harus memperbaiki kondisi yang mendukung kapasitas sistem produksi pangan kita. Pada saat yang sama, kita juga perlu meningkatkan produksi pangan global untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat,” tambahnya.

Di luar pangan, Dr Courtney Howard, seorang dokter gawat darurat dan presiden Association of Physicians for the Environment  Kanada  menambah ilustrasi peliknya masalah kesehatan. “Hanya sekitar 30 persen kesehatan ditentukan oleh perawatan kesehatan yang sebenarnya, dan sisanya ditentutkan justru oleh apa yang terjadi di luar struktur layanan kesehatan,” katanya.

“Kita perlu membicarakan hal-hal yang selayaknya dijaga manusia — seperti  makanan, air bersih, dan tempat berlindung, termasuk habitat beruang kutub,” tambahnya. “Saya tinggal di Kawasan utara Kanada – lebih dekat dengan beruang kutub daripada kebanyakan orang lainnya. Untuk itu, jelasnya, “sepertinya saya tidak hanya akan mengubah perilaku atas nama mereka. “Saya bahkan akan berusaha memindahkan gunung jika dengan begitu saya dapat memberi kontribusi pada anak-anak saya memiliki persediaan makanan yang stabil di tahun 2040.”

Myers menjadi pengarah organisasi Planetary Health Alliance, sebuah koalisi internasional yang melibatkan lebih dari 70 universitas, lembaga riset milik pemerintah maupun organisasi non-pemerintah, dan lembaga lainnya yang bekerja untuk menangani masalah kesehatan planet melalui pendidikan, proyek sanitasi, komunikasi sosial dan upaya untuk mempengaruhi kebijakan publik. “Kami melihat Aliansi sebagai jaringan ikat untuk ladang gerakan penyelamatan masa depan bumi. Kami mencoba menjadi pusat gravitasi untuk membantu setiap orang menemukan intyeraksi dan kerjasama satu sama lain. Kami ingin menghubungkan komunitas riset, dan membawa sains sebagai basis pengambil kebijakan. Ini bukan semata keingintahuan akademis, tapi juga menyangkut bidang aplikasinya dalam keseharain,” jelasnya.

Anggota organisasi PHA telah memulai beberapa program, termasuk mengerjakan proyek pengelolaan perikanan luar negeri, dan bekerja sama dengan pemerintah asing untuk membantu mereka lebih memahami dampak kesehatan dari keputusan lingkungan mereka. Misalnya, mereka telah menunjukkan kepada pemerintah Indonesia bahaya kesehatan yang disebabkan oleh kebakaran hutan, khususnya bagaimana keputusan penggunaan lahan pada akhirnya mempengaruhi kualitas kesehatan lingkungan global, tegas Myers.

Dalam contoh lain, Upstream Alliance telah berupaya membangun kembali habitat spesies udang yang hilang di sub-Sahara Afrika yang tercemar parasit. Organisme ini berupaya mengatasi persoalan schistosomiasis, infeksi usus dana tau saluran kemih akibat infeksi parasit cacing pipih.

“Pendekatan pengendalian penyakit berusaha mengembalikan predator siput alami (udang air) ke dalam ekosistem perairan dimana schistosomiasis muncul, melalui perbaikan skema irigasi,” jelas Sokolow. Berbagai pihak bersinergi memusatkan perhatian pada pemulihan ekosistem dan pengembangan obat-obatan untuk eradikasi aneka penyakit serius.

Dalam upaya untuk mengintegrasikan masyarakat riset yang lebih baik dan fokus pada solusi kolaboratif, Sokolow dan kelompok lainnya telah mulai menganalisis data-data intervensi pada skala lokal dan regional yang memiliki manfaat langsung dan terukur bagi kesehatan manusia. “Kami berharap untuk menempatkan contoh konkret ini dalam konteks dan mensintesis kemajuan agenda kesehatan planet era abad ke-21,” katanya.

Selain proyek individual, pendidikan juga merupakan komponen kunci dari upaya tersebut, kata Myers. “Kesehatan planet dalam dua tahun telah menjadi diskursus dunia. Di Harvard, pusat-pusat studi bergairah melakukan kajian tingkat pascasarjana. Mereka mulai terbiasa melakukan kajian riset sains interdisipliner, dengan partisipasi  masyarakat sekitar. “Melalu program pendidikan, kami mengajak sejumlah lembaga untuk  bermitra dengan World Federation of Academic Institutions for Global Health,” ajaknya.

McCarthy, yang fokus dalam perubahan iklim sejak pensun dari EPA, berjibaku menggulirkan isu-isu perubahan iklim ke dalam gerakan yang lebih besar. Mengaku prihatin dengan perhatian elite dunia yang masih setengah hati berjuang, dia ingin menghidupkan kesadara universal. “Saya ingin mengajak bagaimana persoalan global ini juga bagian dari masalah perorangan? Bagaimana pun, ini juga terkait hidup-mati anak dan keturunan kita di masa depan.”

“Kita butuh suatu terobosan besar. Gerakan menjaga kesehatan planet adalah masalah vital dan krusial. Sudah saatnya, kesadaran ilmiah dan universal hadir, ancaman paradok ekologi ini nyata. Kita sebagai manusia di mana pun, mesti ambil peran untuk melakukan sesuatu demi masa depan yang lebih baik dan sehat,” pungkasnya.

Dedi Junaedi

Tags: LingkunganMasa DepanParadoks
Share47Tweet29Send
Previous Post

Kosovo Miliki Kode Telepon Baru

Next Post

Membiakkan Bakteri, Memanen Emas Murni

Dedi Junaedi

Dedi Junaedi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

6 September 2026
Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

6 September 2026
60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

5 September 2026
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

9 September 2026
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

3 September 2026

Gontor Pelopor Penulisan Al-Qur’an

0
Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

0
Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

0
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

0
Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

0

Gontor Pelopor Penulisan Al-Qur’an

12 September 2026
Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

11 September 2026
Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

11 September 2026
Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

9 September 2026
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

9 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result