Washington, Gontornews — Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir pada hari Kamis (20/10) menuduh milisi Houthi Yaman meningkatkan serangan padahal saat ini di Yaman tengah berlangsung gencatan senjata.
Jubeir mengatakan kepada wartawan di Washington bahwa Arab Saudi berhak untuk mempertahankan diri dari serangan Houthi. Namun ia tidak sampai menyatakan gencatan senjata telah gagal.
Kamis pagi, koalisi yang dipimpin Saudi menuduh pemberontak Yaman berulang kali melanggar gencatan senjata pada hari pertama gencatan senjata dimulai di bawah tekanan dunia untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang.
Setidaknya 11 orang tewas dalam bentrokan sporadis antara pemberontak dan pasukan pro-pemerintah di hari kamis, meskipun semua pihak bersikeras akan menghentikan pertempuran.
Gencatan senjata berlaku mulai hari Kamis untuk periode awal tiga hari, yang memungkinkan pengiriman bantuan yang sangat dibutuhkan di Yaman. Konflik Yaman telah menyebabkan jutaan tunawisma dan kelaparan.
Koalisi yang dipimpin Arab Saudi mengintervensi Yaman di bulan Maret 2015 untuk mendukung pemerintahan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi setelah pemberontak Houthi menguasai banyak wilayah di negara miskin di ujung selatan Semenanjung Arab itu.
Lima upaya gencatan senjata sebelumnya gagal.
Mayjen Ahmed Assiri, jurubicara koalisi, kepada AFP mengatakan, “Tidak ada gencatan senjata sama sekali karena pemberontak berulang kali melakukan pelanggaran.β
“Ini adalah situasi yang sama seperti waktu sebelumnya ketika kami dipanggil untuk gencatan senjata,” kata Assiri.
Arab Saudi dan Washington telah menuduh Iran mempersenjatai kelompok pejuang Syiah Houthi yang bersekutu dengan pasukan yang setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh. Namun Teheran membantah tuduhan itu, dan konflik telah memicu ketegangan antara kekuatan saingan di Timur Tengah.
Koalisi dan Hadi bersumpah untuk mematuhi gencatan senjata meskipun ada pelanggaran oleh pemberontak.
Pasukan pro-pemerintah menyatakan “menghormati gencatan senjata” tapi berhak untuk merespon serangan.
Pemberontak mengatakan, mereka akan menghormati gencatan senjata selama “musuh” mematuhinya, tapi mendesak para pejuangnya untuk membalas “setiap agresi.” [Rusdiono Mukri]





















