Berlin, Gontornews — Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman Heiko Maas mengatakan, kesepakatan yang dibuat oleh faksi-faksi bertikai di Libya untuk bersatu membentuk pemerintahan sementara merupakan “tonggak lain menuju perdamaian.”
“Semua faksi dan aktor Libya di luar Libya sekarang harus mendukung persiapan pemilihan dan melaksanakan gencatan senjata dan tidak menghalangi,” katanya dikutip dw.com.
Seperti diketahui, faksi-faksi yang bersaing di Libya pada hari Jumat (5/2) sepakat untuk membentuk pemerintahan sementara setelah lima hari bertemu di Kota Jenewa, Swiss.
Pemerintahan sementara ini akan menggelar pemilihan presiden yang direncanakan akan berlangsung pada 24 Desember tahun ini.
Libya telah berada dalam kekacauan sejak penguasa lama Gadhafi digulingkan dan dibunuh pada tahun 2011 oleh pasukan yang didukung NATO.
Pemilu yang disengketakan pada tahun 2014 memunculkan dua pemerintahan yang bersaing, satu di bagian barat negara itu dan yang lainnya di bagian timur.
Pada April 2019, Khalifa Haftar, seorang komandan militer yang bersekutu dengan pemerintahan di timur, melancarkan serangan untuk merebut ibukota, Tripoli.
Namun serangannya gagal setelah 14 bulan pertempuran. Pada bulan Oktober, PBB meyakinkan kedua pihak untuk menandatangani perjanjian gencatan senjata dan memulai dialog politik.
Libya merupakan negara yang memiliki salah satu cadangan minyak dan gas terbesar di Benua Afrika, yang menarik investasi asing selama era Gadhafi. []




















