Pyongyang, Gontornews — Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov mengatakan, sanksi terhadap Korea Utara harus perlahan-lahan dikurangi sebagai bagian dari proses denuklirisasi dan semua pihak harus saling bertemu untuk negosiasi.
Lavrov mengatakan hal itu dalam kunjungan ke Pyongyang pada hari Kamis (31/5). Di sana dia bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Menteri Luar Negeri Ri Yong-ho.
Seperti dirilis Aljazeera, Lavrov menyerukan pencabutan sanksi bertahap terhadap Korea Utara. Hal ini menunjukkan Pyongyang tidak akan menyerahkan senjata nuklirnya sampai itu terjadi.
“Sangat jelas bahwa – saat kami memulai diskusi tentang bagaimana menyelesaikan masalah nuklir di Semenanjung Korea – dipahami bahwa solusi tidak dapat komprehensif tanpa pencabutan sanksi,” kata Lavrov saat konferensi pers.
“Ini tidak dapat dicapai sekaligus. Tidak boleh ada denuklirisasi segera – ini harus dilakukan selangkah demi selangkah.”
Washington menekan Korea Utara untuk segera menyerahkan semua senjata nuklirnya dengan cara yang dapat diverifikasi sebagai imbalan untuk mencabut sanksi dan insentif ekonomi.
Namun para analis mengatakan Korea Utara tidak akan mau menyerahkan penangkal nuklirnya kecuali jika diberikan jaminan keamanan bahwa AS tidak akan berusaha menjatuhkan rezim.
Lavrov bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Pyongyang dalam sebuah perjalanan yang dinilai sebagai upaya Moskow untuk membuat suaranya terdengar di tengah-tengah kebingungan negosiasi tentang perlucutan nuklir Korea Utara.
Kunjungannya terjadi sebelum kemungkinan pertemuan puncak penting antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara yang direncanakan pada 12 Juni di Singapura.
Diplomat tinggi Moskow menyatakan dukungan Rusia untuk deklarasi antara Korea Utara dan Korea Selatan bulan lalu, di mana mereka setuju untuk denuklirisasi di Semenanjung Korea.
Pemimpin Korea Utara Kim, yang ertemu dengan pejabat tinggi Rusia untuk pertama kalinya, berterima kasih kepada Moskow karena telah berada Pyongyang ketika negara itu membutuhkan dukungan diplomatik.
“Situasi di Semenanjung Korea berubah sesuai dengan kepentingan dua negara. Saya senang pemerintah Putin bertindak bertentangan dengan dominasi Amerika Serikat, dan kami selalu siap untuk bernegosiasi dengan pihak Rusia,” kata Kim seperti dikutip media Rusia. [Rusdiono Mukri]





















